Join MultiplyOpen a Free ShopSign InHelp
MultiplyLogo
SEARCH
Blog EntryMar 24, '11 3:15 AM
for everyone

Kampung Kadu Jangkung

 

Akhirnya sampai juga di kampung Kadu Jangkung ini, fuiihh capeknya – kami segera naik ke rumah kerabat kang Sarpin ini dilanjutkan dengan menghadapi bungkusan nasi masing-masing, yang ditemani dengan lauk telur balado plus rebusan daun singkong dan sambel yang maknyus – kamipun langsung asyiik dengan kegiatan santap siang kami…….

 

Hari sudah menunjukan jam 14.30 ketika kami santap siang tersebut, Kang Sarpin bilang kita akan bergerak lagi nanti pukul 16.00 agak sorean supaya tidak terlalu panas rencananya kami akan menuju kampung Balimbing untuk bermalam di kediaman kang Sarpin nanti malam.

 

Menurut kang Sarpin dari Kadu Jangkung ke Balimbing tidak terlalu jauh, ada tanjakan tapi tidak separah tadi katanya meyakinkan kami semua yang sudah trauma dengan tanjakan yg kami lalui siang tadi. Kang Sarpin sendiri tidak bisa menemani kami ke kampung Balimbing karena harus membantu persiapan pengobatan gratis untuk esok hari di kampung Kanekes, putra kang Sarpin si Mul yang akan menemani kami.

 

Aaah lumayan bisa isitrahat dulu di kadu jangkung ini, sementara itu ki Slamet menemukan objek foto yang menarik yaitu seorang ibu muda badui luar dengan anaknya….gak jelas yang menarik di foto ibunya apa anaknya hehehehe.

 

Sementara ki Slamet asiik mainkan camera nya, om AG bolak balik ke warung sebelah rumah kerabat kang Sarpin ini, sekali ke warung sendirian, balik lagi sekarang ngejajani om Effo habis itu balik lagi ke warung sekarang dia traktir si Adit…..selidik punya selidik ternyata ada obyek menarik di warung tersebut….pantesan koq bolak balik ke warung….ternyata….hehehe

ki Slamet

Menjelang pukul 1600 kami bergerak, menuju kampung Balimbing, ternyata benar kata kang Sarpin ada tanjakan tapi tidak terlalu parah bahkan menjelang desa Balimbing dominan turunan nya.

 

Antara Kadu Jangkung dan Balimbing kami melewati satu kampung namanya kampung Cihulu, selain itu juga kami melewati area dengan pemandangan yang cantik dimana dari ketinggian bukit tempat kami berdiri kami bisa memandang landscape badui luar yang berbukit-bukit dan desa ciboleger dibawah sana. Salah satu bangunan mencolok dibawah sana adalah menara BTSnya Indosat – weeks pantesan cuma indosat yang masih ada sinyal di Badui ini.

 

Kampung Balimbing

 

Pukul 17 kami tiba di desa Balimbing dan langsung menuju ke rumah kang Sarpin…..alhamdulillah akhirnya….serasa sudah sampai dirumah sendiri hehehe, saya langsung geletak di beranda istirahaaat….

 

Rumah Kang Sarpin besar ruang utamanya pun besar dan nyaman, di depannya ada halaman yang luas. Kamar mandinya ada dua buah berada dibelakang rumah dan berdiri terpisah dari rumah  - cukup bersih dan nyaman, mungkin hal ini karena kang Sarpin sering kali kedatangan tamu dari luar badui makanya kamar mandi maupun ruang utamanyapun disesuaikan untuk menampung tamu2nya yg bermalam.

 

Ketika kami sampai di rumah kang Sarpin ada icha dan temanya (ami - mirza?) yang sedang meliput kegiatan isteri kang Sarpin dan kegiatan badui luar lainnya untuk dimuat di blog dan di publikasikan. Icha juga sudah sering ke badui ini dan selalu menginap di tempat kang Sarpin. Jadi memang relasi kenalan kang Sarpin ini cukup luas.

 

Sore itu setelah mandi kami duduk-duduk di beranda menunggu waktu magrib, hmmm jarang-jarang nih duduk2 sore menjelang magrib menyaksikan pertukaran dari siang hari menuju malam – apalagi dalam suasana desa tanpa listrik dan tanpa suara bising; beda sekali dengan suasana sehari-hari di Jakarta, dimana kita begitu asik kerja begitu keluar gedung ternyata hari sudah gelap – dan jalanan bising dengan kendaraan yang macet antre. Disini begitu tenang senyap dan perlahan menjadi gelap.

 

Cahaya kuning kemerahan lampu teplok atau lampu semprong (lampu minyak tanah) tersebut tidak cukup kuat untuk menerangi seluruh sudut ruang utama rumah kang sarpin, goyangan nyala apinya membuat bayangan-bayangan yang tercipta di dinding bilik bambu ikut bergoyang-goyang – dalam nuansa temaram seperti inilah kami santap malam dengan hidangan yang dimasak oleh Teh Misnah (?) isteri kang Sarpin.

 

Hidangannya sederhana saja, Nasi putih hangat, telur dadar, sayur buncis, ikan asin, sambal dan kerupuk – namun nikmatnya mak nyuus bo; serius beneran nih; entah karena suasananya yang berbeda atau memang karena kita lagi laper dan masih capek yang jelas makan jadi lahap dan nikmat……

 

Selesai makan kelihatannya semua sepakat untuk segera istirahat – semuanya sudah siap di kaplingnya masing-masing dan sudah berada di dalam sleeping bagnya; sambil saling melemparkan cerita-cerita horror maupun candaan horor……(nakut-nakutin si Alin dan Eliz) kami pun berangkat tidur zzzz…zzzz..zzz – (kelihatannya kang Sarpin tidak terlalu suka cerita-cerita horor kami dia lebih suka memilih keluar ke beranda memandangi bulan hehehehe – maaf ya kang);

***

 

Minggu, 13 Februari 2011 di teras Rumah Kang Sarpin Kampung Balimbing

 

Tentang  Orang Badui

Tahukah anda kalo orang badui tidak mengenal budaya baca – tulis? Yang ada adalah budaya lisan, fakta ini saya ketahui dari kang Sarpin ketika pagi hari kami mengobrol di teras rumahnya di temani teh manis dan ketan hangat yang pulen.

 

Kang Sarpin mengatakan bahwa anak-anak Badui Luar tidak pergi bersekolah, karena mereka memang tidak mengenal budaya baca tulis (atau malah dilarang secara adat?). Jadi semua tradisi dan adat istiadat selama ini diturunkan secara lisan turun temurun. Terus terang antara takjub dan miris juga saya mendengar hal ini, takjub atas kemampuan mereka menjaga adat dan mewariskan ke generasi berikutnya secara lisan, tapi juga miris seberapa lama mereka akan mampu menjaga budaya nya.

 

Kalo kita ingat akan permainan pesan berantai dalam even-even team building – dimana 10 sampai 15 orang dibariskan kemudian kepada  orang yang paling depan diberikan pesan tertentu yang selanjutnya pesan tersebut harus disampaikan kepada orang yang kedua, dan orang yang kedua ini menyampaikan pesan kepada orang ketiga, demikian seterusnya secara estafet pesan ini dilanjutkan sampai orang terakhir – maka pada saat orang terakhir diminta untuk menyebutkan pesan yg diterimanya, umumnya isi pesannya sudah berubah banyak dan umumnya menjadi tidak lengkap. Kondisi ini disebabkan macam-macam hal karena daya ingat manusia yg terbatas, daya tangkap dan pemahaman terhadap pesan yang keliru, cara menyampaikan yg salah dan bentuk bentuk distorsi lainnya.

 

Nah apakah budaya badui akan mengalami distorsi ataupun penyusutan dan menjadi tidak lengkap setelah generasi generasi berikutnya hanya orang badui  dan sang waktu lah yang akan tahu.

 

Ketika saya tanyakan apakah orang badui mengenal musik dan lagu, Kang Sarpin bilang bahwa alat musik yang dikenal orang badui adalah angklung tetapi lagu yang dimainkan adalah lagu lama – tidak ada lagu baru yang di ciptakan oleh orang badui, demikian juga dengan tari-tarian orang badui tidak mempunyai tari tarian – wah tampaknya orang badui tidak terlalu antusias dalam berkesenian ya.

 

Dan memang selama di Badui Luar ini saya tidak melihat adanya patung ataupun ukir-ukiran atau lukisan mungkin ini karena terkait dengan tidak adanya budaya baca tulis tadi.

 

Beberapa orang mengatakan bahwa orang badui menganut system barter dalam bertransaksi dengan pihak lain – namun menurut kang Sarpin orang badui sudah mengenal uang cukup lama, bahkan termasuk di badui dalamnya.

 

Menurut kang Sarpin berdasarkan koleksi uang yang dimiliki oleh orang tuanya kang Sarpin melihat orang tuanya memiliki koleksi uang-uang kuno, bahkan ada koin yg bergambarkan ratu Wilhemina (ratu Belanda pada jaman penjajahan dulu) dan juga ada uang yang disebut-sebut sebagai uang kerajaan (kerajaan Pajajaran atau kesultanan Banten tidak jelas yang dimaksud kang Sarpin ini kerajaan apa).

 

Artinya orang badui sudah sejak lama mengenal uang dan berinteraksi serta bertransaksi dengan orang asing dengan menggunakan mata uang,

 

Bahkan menurut kang Sarpin ada ritual-ritual yang harus menggunakan mata-mata uang tersebut sebagai salah satu kelengkapan upacara.

 

Jadi kesimpulannya orang badui sudah lama sekali mengenal mata uang.

 

Mengenai pertanian kang Sarpin mengatakan bahwa orang badui melakukan perladangan berpindah, setiap kali lahan yang ditanami tingkat kesuburannya menurun, maka mereka berpindah ke lahan yang lain. Lahan yang di tinggalkan ini akan di diamkan kira-kira 5 -7 tahun agar tingkat kesuburannya kembali (humusnya terbentuk kembali). Namun karena penduduk badui yang semakin bertambah, menurut kang Sarpin lahan yang dulu di diamkan selama 5 -7 tahun baru ditanami kembali sekarang baru 2 – 3 tahun sudah ditanami kembali karena kebutuhan pangan yang meningkat.

 

Masih banyak sekali yang ingin kami dengar mengenai adat istiadat maupun hal-hal lain, sayang kang Sarpin harus turun ke kanekes karena ada pengobatan gratis. Sedangkan kami akan melanjutkan explorasi kami ke desa-desa disekitar desa balimbing ini. Yaitu ke desa marenggo dan gajeboh.

 

 ***

 

Kampung Marenggo dan Kampung Gajeboh

Pagi ini setelah bincang-bincang yang menarik dengan kang Sarpin rencananya kami akan melanjutkan explorasi kami ke Kampung Marenggo dan Kampung Gajeboh, dua kampung badui luar ini termasuk yang sering dikunjungi wisatawan – letaknya yang berada dalam lintasan untuk menuju badui dalam menyebabkan hal tersebut.

 

Pengunjung yang sabtu pagi kemarin banyak terlihat ketika kami sarapan ternyata tujuannya sebagian ke kedua kampung ini, bahkan juga ada rombongan sepedahan yang menuju ke sini – entah mereka berangkat dari mana yang jelas sepedanya dititipkan di Ciboleger; bener-bener deh yang namanya kendaraan dilarang masuk – hanya boleh jalan kaki hehehe.

 

Kami kembali menyusuri jalan antar kampung yang lagi-lagi naik dan turun, hanya saja kali ini tidak separah kemarin dan juga jaraknya tidak terlalu jauh, tidak sampai setengah jam kampung Marenggo sudah kita capai dan untuk mencapai kampung Gajeboh tidak sampai setengah jam jalan kaki dari kampung Marenggo.

Yang menarik dari perjalanan ke Gajeboh adalah adanya sebuah sungai yang cukup besar di sisi jalan, sehingga kami bisa melihat wisatawan yang menginap di kampung Gajeboh ini sedang mandi dan bersih-bersih di sungai ini; buat orang kota bermain-main di sungai seperti ini tentunya menyenangkan. Sayangnya masih ada yang mandi menggunakan sabun dan menggunakan pasta gigi untuk gosok gigi, seharusnya mereka tidak boleh menggunakan benda2 tersebut di sungai ini, agar sungai tersebut tidak tercemari.

Diujung kampung Gajeboh ada sebuah jembatan bambu untuk ke badui dalam kita harus melalui jembatan ini, disitu juga ada tulisan yang melarang untuk berenang/mandi di sungai melewati batas jembatan.

Setelah puas mengeksplore kampung Gajeboh kami kembali ke kampung Balimbing, sebelumnya sempet mampir ke rumah orang tua dari kang Sarpin di Kampung Gajeboh ini.

 

Di kampung Marenggo kami sempet berhenti sebentar di warung untuk beli minum, di kampung ini malah om Onot, om AG dan Adit sempet bermain bola kaki dengan anak-anak badui luar – sementara Ki Slamet terus hunting objek2 yang menarik di sekitar kampung Marenggo ini.

 

Menjelang pukul 9 kami sudah tiba di rumah kang Sarpin  kembali. Setelah sarapan kami mulai packing rencananya kami akan turun ke kampung kanekes jam 11.00 agar tidak terlalu malam tiba di Jakarta nanti.

 

Sebelum meninggalkan kediaman kang Sarpin kami membeli beberapa cindera mata khas badui yang dijual oleh the Misnah, antara lain kain tenun hasil karya teh misnah sendiri, ada juga ikat kepala dan baju orang badui, selain itu ada juga tas yang terbuat dari anyaman akar.

****

 

Kembali ke Jakarta.

Menjelang jam 11  setelah berfoto bersama di depan kediaman kang Sarpin, kamipun meninggalkan rumah kang Sarpin. Ransel-ransel pakaian kami di bawa oleh Mul dan seorang temannya, sehingga kami masih bisa melenggang dengan nyaman.

 

Kami begitu bersemangat untuk melangkahkan kaki kali ini, selain karena tenaga yang masih penuh juga bayangan perjalanan yang begitu panjang dan menguras tenaga kemarin masih membekas begitu dalam. Jadi mumpung masih cukup pagi dan tenaga penuh kami coba lahap tanjakan dan turunan yang ada sesegera mungkin dan sebanyak mungkin.

 

Om Onot, Om AG, Adit, Alin dan saya berada di depan tanjakan-tanjakan kami libas dengan baik meskipun kaki saya masih agak sakit tapi tidak menghalangi pergerakan saya. Demikian bersamangatnya kami sampai-sampai sebelum jam 12 kami sudah tiba di suatu kampung, dimana disalah satu beranda rumahnya kami lihat ada kang Sarpin (ditempat pengobatan gratis). Kang Sarpin memberi isyarat ke om Onot agar istirahat dulu – kami pun duduk2 di warung yang berada didepan tempat kang Sarpin tadi.

 

Kami benar-benar tidak sadar bahwa rumah tempat pengobatan gratis tersebut adalah rumah tempat kami menginap kemarin malam saat tiba di badui luar, dalam bayangan kami pasti masih jauh jalannya seperti perjalanan kemarin siang.

Saking tidak sadarnya om AG bahkan semangat beliin kita minuman dia pikir jalannya masih jauh hehehe. Belakangan setelah di kasih tau kang Sarpin di balai desa Kanekes bahwa rumah tempat pengobatan gratis tadi adalah rumah tempat kami menginap ketika kami tiba barulah kami yakin…. Ada rasa lega berarti sudah sampai ditujuan – oh ternyata dekat saja, pantesan tadi kang Sarpin bilang koq cepet banget udah sampai hehehehe

 

Karena masih dipakai untuk pengobatan gratis, kang Sarpin mengajak kami ke balai desa kanekes, disana kami bertemu kang Masardi salah satu perangkat Kampung Kanekes juga, sayang Jaro Daina (kepala kampung Kanekes) sedang tidak ada di tempat.

 

Kami beramah tamah di balai desa ini termasuk juga menyelesaikan administrasi disana – menuliskan rombongan di buku tamu juga tentunya berfoto ria hehehe…

 

Selesai dari balai desa kami kembali menuju kerumah tempat pengobatan gratis tadi, kali ini kami akan santap siang disini, dengan menunya nasi liwet plus ikan asin waaks maknyuss banget terutama sambelnya bisa bikin semangat makan.

 

Hampir pukul 13.30 ketika kami turun dari kanekes ke Ciboleger dimana bis kami menunggu, sebelumnya sempet mampir di pusat kegiatan belajar masyarakat, semacam tempat belajar untuk baca-tulis ataupun paket kejar (kelompok belajar) – untuk melihat kalau-kalau ada yang bisa kita bantu.

saya didepan gerbang

Jam dua siang kami berpamitan dengan kang Sarpin, dan kemudian segera masuk ke bis kami, Icha dan Mirza join dengan kami menuju Jakarta, hal ini dikarenakan mereka tidak memperoleh angkutan umum yang ke Rangkas.

 

Di siang hari yang panas tersebut bis kami pun bergerak meninggalkan Ciboleger, kembali melalui jalan-jalan rusak menuju Jakarta. Tidak banyak pembicaraan dalam perjalanan pulang ini, selain badan yang lelah masing-masing tenggelam dengan kesannya sendiri-sendiri atas tanah badui yang baru saja kami tinggalkan tadi. Satu-satunya kejadian yang menarik dalam perjalanan pulang ini  adalah om Effo menunaikan kaulnya – yaitu mentraktir kami makan bakso di rest area tol selepas kota Serang; soalnya om Effo waktu tersiksa oleh kakinya yang kram, terucap yang paling di ingini om Effo saat itu kalo bisa menyelesaikan trekking kali ini adalah makan bakso…….

 

Gemerlap lampu Plasa Senayan dan hilir mudik mobil yang melintas (kontras sekali dengan suasana badui yg gelap dan hening) mengiringi perpisahan kami (tim Badui STAN82) dipelataran parkir plasa senayan ini. Ki Slamet di jemput sedangkan yang lain masing-masing naik taksi menuju rumahnya masing-masing.

 

Berakhir sudah aktifitas outdoor kami kali ini, tapi kami yakin ini bukan yang terakhir – sejumlah tujuan sudah masuk dalam waiting list untuk dikunjungi bersama-sama lagi antara lain Pulau Tidung, Ujung Kulon, Gunung Rinjani dll……insya Allah

 

                                                                                      ----oO0Oo----



Blog EntryMar 24, '11 3:05 AM
for everyone

Jembatan Akar


Bus elf kami berhenti ditempat yang agak lapang dimana bis tersebut bisa memutar balik, kami semua turun disini dan selanjutnya dari sini kami akan melanjutkan berjalan kaki, nah ini dia trekking yang sebenarnya akan dimulai. Bis ini akan kembali ke Ciboleger, saya tidak tahu nama daerah tempat kami di turunkan ini yang jelas dari Ciboleger turun kebawah kemudian menyimpang ke kanan dan kemudian menyusuri jalanan sempit yang berupa batu-batu (sebagian besar aspalnya sudah terkelupas) sejauh 15 – 20 menit perjalanan.

 

Saat itu sudah hampir pukul 08.30 ketika kami tiba di dropp zone tadi, udara cerah cenderung panas menyambut kami, tujuan kami adalah trekking menuju jembatan akar dengan melalui beberapa kampung Badui Luar.

 

Setelah Ki Slamet dan om Effo mengambil beberapa foto sawah yang berbentuk terasering – kontur tanah di badui ini memang berbukit-bukit -  tim stan 82 pun mulai mengayunkan langkah menyusuri jalan berbatu, mula-mula masih di jalan utama tetapi kemudian mulai menyimpang dan masuk ke jalan setapak.

 

Kini suasana pedesaan semakin kental, sekelilingi kami didominasi warna hijau – baik warna hijau  dari pepohonan, semak belukar, maupun tanah tegalan yang di olah dan ditanami berbagai tanaman keras seperti kopi maupun cengkeh semuanya menyumbangkan warna hijau, membuat mata ini terasa teduh apalagi di padu dengan udara yang bersih dan jauh dari polusi, benar-benar sangat berbeda  dibandingkan udara Jakarta yang sehari-hari kita hirup.  Seekor burung elang diketinggian terbang berputar melayang dengan  mengembangkan sayapnya, pekikannya seakan memberi salam kepada tim STAN82 yang masuk semakin ke dalam area pedesaan.

 

Menurut kang Sarpin untuk sampai ke jembatan akar perlu waktu 1,5 – 2 jam tapi saya tidak tau itu ukuran jalannya siapa?....jalannya orang badui atau kita-kita yang sudah mendekati kepala lima usianya.

 

Yang jelas sampai disuatu tempat yg bernama kampung Krendeng kang Sarpin mengajak kita duduk disalah satu teras rumah penduduk setempat sambil memberi kami kesempatan mengatur nafas, Kang Sarpin menjelaskan bahwa kami telah tiba di kampung Krendeng, dan di badui ini ada dua kampung yang unik yaitu kampung Krendeng ini, dimana keunikannya adalah kampung Krendeng ini  kampung orang Badui Luar yang berada di wilayah non badui. Sedangkan kampung unik yang satunya lagi adalah kampung Cicakal Girang, ini adalah kebalikannya dengan kampung Krendeng, kampung Cicakal girang adalah kampung muslim (non badui) yang berada di wilayah orang badui.

 

Dan menurut kang Sarpin penduduk kedua desa tersebut bisa hidup berdampingan dengan damai dan rukun walaupun adat istiadatnya berbeda….wah asyikkan kalo semua orang bisa hidup berdampingan dengan rukun dan damai.

Kang Sarpin juga menjelaskan kalo desa Krendeng ini merupakan salah satu sentra durian di wilayah Badui ini, dan memang kami melihat banyak sekali pohon durian sepanjang jalan tadi.

 

Dari kampung krendeng kami melanjutkan perjalanan menuju ke kampung Batara, kami terus menyusuri jalan setapak yang menghubungkan antar desa, tentu saja jalannya naik turun mengikuti kontur perbukitan yang ada, setelah menyeberangi sungai kecil berbatu kami tiba di tepi kampung Batara.

 

Sayup-sayup terdengar suara orang menumbuk padi – yang ternyata dilakukan oleh para wanita Badui Luar, Ki slamet dan om effo tidak menyia-nyiakan moment tsb, kamera mereka segera beraksi mengabadikan moment ini. Patut di akui buat orang yang hobby foto grafi menjelajah alam badui ini memang banyak sekali objek yang menarik yang bisa di abadikan – apalagi jika naluri sebagai fotografernya sudah terasah dengan baik pasti akan mampu mengeksplorasi objek dari berbagai sudut, sehingga bisa menghasilkan foto yang baik.

Salah satu yang khas dari kampung Badui Luar ini adalah jalan-jalan di dalam desa umumnya terbuat dari susunan batu kali, selain itu suasana kampung pada siang hari sangat sepi seakan kampung tersebut tidak berpenghuni, sedikit sekali orang yang berkeliaran di jalanan desa – umumnya yang terlihat adalah anak-anak, wanita dan orang lanjut usia itupun biasanya mereka lebih banyak berada didalam rumah. Mungkin karena para pria nya pergi ke ladang-ladang mereka pada siang hari, sehingga suasana desa sangat sepi pada siang hari itu.

 

Mengenai orang Badui Luar maupun badui dalam berdasarkan  observasi saya selama trekking di tanah badui ini adalah tidak tampak adanya orang badui yang mengalami obesitas alias kegemukan hehehe umumnya tubuh mereka langsing – tidak kurus dan tidak gemuk. Yang unik kaum wanita Badui Luar kebanyakan berkulit putih bersih – unik kan padahal mereka hidup jauh dari salon kecantikan ataupun perawatan kulit hehehehe.

 

Kampung Batarapun kami lalui tim STAN82 terus bergerak menuju jembatan akar, masih dengan semangat yang sama apalagi jalan menuju ke jembatan akar lebih banyak menurunnya maklum namanya sungai biasanya selalu ada di lembah…….(tapi pas baliknya nanti baru siksaan berat buat kami, eh maksudnya buat saya dan om effo  soalnya bakalan nanjak terus hehehe)

 

Setelah menuruni jalanan menuju sungai kami di suguhi pemandangan yang unik - jembatan akar!, sebuah jembatan yang membentang diatas sungai Cisimet, bentangan jembatan ini terbuat dari akar-akar gantung dari dua pohon yang berseberangan di kedua tepiannya. Entah apakah dibuat oleh manusia atau terjadi secara alami yang jelas akar gantung dari kedua pohon tersebut saling jalin menjalin membentuk jembatan, lantai jembatan terbuat dari bambu yang diletakan diatas jalinan akar gantung kedua pohon tadi.

 

Mengenai kekuatannya sih jembatan ini terlihat cukup kokoh tapi tetep saja saat kita berjalan diatasnya jembatan ini sedikit bergoyang-goyang, cukup menakutkan buat orang yang takut ketinggian tentunya….

 

Jembatan akar ini cukup unik tapi mungkin letaknya yang cukup jauh menyebabkan tidak banyak orang yang berkunjung kesini – siang itu hanya tim kami yang berada di lokasi jembatan akar ini; padahal ketika kami sarapan di Ciboleger tadi pagi banyak sekali pengunjung yang datang ke kampung Badui Luar. Tapi bagus juga sih tidak terlalu ramai sehingga kami bisa menikmati jembatan akar ini sepuasnya tanpa ada pengunjung lain.

 

Kami turun ketepian sungai dibawah jembatan akar, duduk-duduk beristirahat menikmati makanan yang dibawa dan tentunya menikmati nuansa tepian sungai dan alam yang segar – di Jakarta mana ada suasana seperti ini ngobrol di pinggir sungai ditengah alam yang masih asri.

 

Selanjutnya tentu saja sessi foto-foto – untungnya kita bawa fotografer handal ki Slamet, apalagi pada kesempatan ini beliau gak tanggung-tanggung menurunkan dua kamera dslr andalannya salah satunya dslr dengan sensor Infra Red (IR) yang konon bisa menampilkan warna lebih ajib.

Belum lagi ditambah kamera om Effo (canon dslr eos d50 ya fo?)  yang ceritanya sedang menimba ilmu dari ki Slamet, nah kurang apa coba tinggal kitanya aja yang gak boleh kehabisan gaya buat jadi modelnya hahahaha…..

***

Dibalik Musibah  Selalu ada Yg mengambil Manfaat

 

Tidak terasa tau-tau sudah jam 11.00 tim STAN82 pun bergerak lagi, kali ini menuju desa kadu jangkung, disana tidak ada obyek yang unik sih – tapi disana lokasi tempat makan siang kami…hehehe jadi mau gak mau ya harus di datangi.

Rute yang kami tempuh menuju kampung kadu jangkung adalah, menyusuri kembali jalan yang tadi kami lewati menuju kampung batara kemudian kembali menyusuri jalan besar – terus nanti menyimpang mengambil jalan pintas menuju Kadu Jangkung.

 

Dalam perjalanan menanjak menuju kampung batara, mulai terasa tenaga kita terkuras – di kampung batara ini om Effo kram telapak kakinya…. Akibatnya saya, om effo dan ki Slamet tercecer di belakang sementara teman-teman sudah jalan di depan.

 

Setelah om effo bisa mengatasi kramnya kami lanjutkan perjalanan, sampai di sungai kecil batas kampung Batara terlihat om Onot menunggu kami – memang beda kalo orang yg terlatih sebagai pecinta alam – pasti dia takut kita salah ngambil jalan karena ada percabangan di depan kami,  makanya kita di tungguin (mudah2an sih itu alasannya bukan sekalian istirahat ngambil napas hahaha).

 

Dari sungai kecil ini kami menanjak menuju desa Krendeng lagi, anggota tim yang lain rupanya menunggu kami di desa Krendeng ini, si Eliz malah sempet tidur-tiduran di beranda rumah orang saking lamanya nungguin kita ….hehehehe.

 

Dari desa Krendeng kami menuju jalan utama, kini kami berada di area yang terbuka dan panas matahari jam dua belas pun terasa menyengat, keringat mambasahi seluruh kaos saya  handuk kecil yang saya bawa pun sudah tidak mampu menyerap keringat lagi, karena sudah sama basahnya dengan kaos saya hehehe.

Ketika mulai memasuki kampung (non badui) dan melintas dekat mushola, Adit mengajak tim untuk berhenti guna menunaikan ibadah sholat dzuhur dahulu; tapi kang Sarpin menyarankan sebaiknya di mushola yang satu lagi karena tempatnya lebih bersih dan lapang – wah salut juga saya sama kang Sarpin ini tadi subuh, saya yang di ingatkan kalo salah arah kiblat, sekarang dia malah ngasih saran tempat mushola yang lebih baik dan nyaman rupanya cukup paham juga dia dengan ibadah umat muslim.

 

Di mushola yg dimaksud kang Sarpin ternyata memang lebih besar dan lebih nyaman apalagi di depannya ada warung yang menjual es mambo (itu lho es dari air sirup yg dimasukan dalam plastic terus di taruh di freezer) kalo di Jakarta es seperti ini pastinya kita tidak lirik sama sekali tapi kali ini karena haus dan kepanasan buanget rasanya nikmat banget ngemut es mambo ini hehehe.

 

Di mushola ini kami berhenti agak lama juga karena mulai terasa kelelahan sehingga terasa enak juga leyeh-leyeh istirahat hehehe, sampai-sampai kang Sarpin yang tadinya jalan duluan dan menunggu di depan, kembali menyusuli kami dan mengingatkan kami untuk bergerak kembali.

 

Tim pun kembali bergerak menyusuri jalan utama dan masih juga ditemani matahari panas yang lagi lucu-lucunya menyinari kami (matahari jam satu siang bo) – sampai di suatu tempat kami menyimpang ke kiri keluar dari jalanan utama tadi, dan mulai menyusuri jalan setapak menembus tegalan dan ladang penduduk.

 

Nah lumayan sekarang sedikit adem karena masuk2 kebun dan ladang jadi banyak pepohonan yang membuat teduh…..tapi kenyamanan itu nggak lama, karena sekarang di depan kami ada lereng bukit yang harus kita lalui….tanjakannya juga nggak kira-kira panjang banget dan kemiringannya cukup terjal…..weeks

 

Sementara itu selain tenaga yg sudah terkuras, perut pun sudah memberi sinyal minta di isi (kalo istilah om Onot cacing2 di perut udah kasih miss call) – rasanya  nasi uduk sarapan tadi pagi di ciboleger sudah tidak tersisa semua, sudah terkonversi menjadi tenaga dan keringat, kayaknya tubuh saya mulai menggunakan cadangan lemak untuk menggerakan kaki-kaki saya agar tetap dapat melangkah hehehe – mungkin kalo dua bulan aja disini dan tiap hari naik turun bukit kayaknya saya bakalan langsing deh….

Dengan kondisi seperti itu kami harus mendaki bukit….harus!! karena makan siang kami menunggu di balik bukit - entah bukit yang mana….hehehe. Duh mana lutut kanan saya mulai terasa nyeri padahal saya sudah dibantu dengan trekking pole (tongkat untuk trekking) supaya beban tubuh sebagian bisa di topang oleh tongkat ini jadi tidak ditopang seluruhnya oleh lutut saya, Nyeri lutut ini memang sudah saya rasakan sejak touring dan trekking ke gunung Manglangyang (bisa dibaca disinihttp://imamarkan.multiply.com/journal/item/44/Turing_Merdeka_MiLYS_-_Gunung_Manglayang_) .….tapi demi makan siang kami maka saya tetep harus bergerak…..

 

Walaupun lambat kami masih bergerak menapaki tanjakan maut ini, kami berjalan disela-sela ladang padi yang mulai menguning siap untuk di panen – orang badui memang tidak menanam padi di sawah; tapi mereka menanam padi ladang (padi huma).

 

Dalam perjalanan ini saya sempat melihat ada kerbau tapi tidak jelas apakah itu milik orang badui luar atau non badui – dan seingat saya selama keluar masuk kampung badui ini saya tidak melihat kandang ternak berkaki empat, seperti kambing, sapi atau kerbau tidak jelas apakah orang badui luar memang tidak berternak hewan kaki empat atau bagaimana (mungkin kalo ke Badui lagi saya akan coba cari tau).

 

Saya menjadi korban medan berat yang berikutnya – ketika menapak di tanah yang agak lunak kaki saya terpeleset dalam upaya menyeimbangkan tubuh reflex kaki kiri saya menjejak tanah dengan cepat namun hasilnya malah betis kiri saya kraam….waaks….arrggh ….gubrak saya jatuh sambil menahan sakit yang luar biasa pada betis saya.

Akibat insiden ini kami berhenti cukup lama menunggu kaki saya siap dipakai melangkah kembali, dibalik penderitaan saya, Om effo kelihatannya menjadi lega banget karena ada teman sependeritaan hehehe, dan yang lain nya happy juga bisa isitrahat ambil napas….Ternyata benar juga paradigma yg mengatakan Dibalik musibah orang lain pasti selalu ada yang mengambil keuntungan atau manfaat hehehehe  - tapi ternyata ada juga sih orang yg tidak mengambil keuntungan dari musibah saya ini, malah kesel dan rada emosi…..yaitu kang Sarpin, belakangan waktu makan dia ngaku agak emosi karena perutnya sudah lapar sementara kita gak mulai jalan-jalan juga….hahahaha, kang Sarpin sorry ya kita nggak tau ente gak tahan laper….kekeke.

 

Setelah di istirahatkan beberapa saat dan juga di olesi krim Felden Gel pemberian Eliz  (setahu saya ini untuk nyeri sendi akibat asam urat – ternyata bisa juga untuk kaki kram) kaki kiri saya bisa saya gunakan untuk berjalan lagi – rombongan pun bergerak kembali.

 

Om AG dan Ki Slamet mencoba membesarkan mental saya dan om Effo dengan mencoba bilang “sudah dekatlah”, “tanjakannya tinggal dikitlah” dan sebagainya – yang buat kami tentunya tidak berpengaruh banyak wong kita tau mereka juga baru pertama kali ke sini  dari mana mereka tau sudah dekat, tanjakannya tinggal dikit dlsbnya….kekekeke.

 

Lagi pula sebenernya mental kami tidak dropp walaupun mengalami kaki kram, kami cuma laappparrr dan lellllaahh hehehe, yang lain juga saya yakin sudah laparr bahkan karena laper si Eliz pun sempet salah liat, atap tempat menjemur padi yg baru di panen, dikira atap rumah penduduk – sempet bilang udah deket tuh keliatan atap kampungnya…..weeks ternyata bukan kampung.

 

Lapar juga yang menyebabkan kami terus bergerak menuju TKP makan siang, soalnya tidak ada yg bersedia ngambilin makanan terus dibawa ke tempat kita nunggu hehehe.

 

to be continued



Blog EntryMar 24, '11 2:39 AM
for everyone

Jum’at  11 Februari 2011 pukul 20.00

“Boss, saya baru kelar rapat nih, kira-kira baru nyampe TKP kumpul  jam 22, tungguin ya” demikian bunyi sms saya ke ki Slamet. Ki Slamet adalah tim leader, STAN82  trekking to badui land; sedangkan STAN82 sendiri merupakan komunitas alumni Sekolah Tinggi Akuntansi Negara angkatan tahun 82 – dari tahun angkatannya sudah bisa ditebak dong kalo anggotanya rata-rata sudah berumur diatas 46 th dan menjelang 50 th…..hehehehe

“Ok bung Imam, kita tungguin, santai saja – kita kumpul di starbuck PS (plasa Senayan)” bunyi sms balasan dari ki Slamet.

 

Saya bergegas keluar dari kantor – memacu motor saya pulang ke rumah di Pasar Minggu, ganti baju dan mengambil peralatan yang sudah saya siapkan dari kemarin malam kemudian di antar isteri segera menuju titik kumpul yg disepakati.

 

Menjelang pukul 22.00 saya sudah tiba di titik kumpul – dimana sebelumnya saya menjemput anak sulung saya – Alin, yg akan menyertai saya trekking ke badui kali ini. Di TKP ki Slamet dan om Effo sudah menunggu di samping bis elf yang kita charter untuk perjalanan kita kali ini.

 

“Yang lain masih belanja logistic”  kata om Effo ketika saya tanya yang lain pada kemana?

“Yang berangkat jadinya Cuma 8 orang” Ki Slamet menjelaskan ke saya “Pitra dan Lucan batal ikut”

 

Waaks dari rencana semula 12 orang peserta ternyata setelah hari H nya menciut jadi tinggal 8 orang……kegiatan kali ini memang boleh dibilang pertama kali diadakan oleh komunitas STAN82, setelah beberapa kali ide untuk jalan-jalan bareng terlontar di milis STAN82 baru yang satu ini yg bisa terealisir dengan animo pesertanya cukup banyak

 

Buat saya sendiri sih sebenernya ini yang ketiga kali jalan bareng STAN82 karena sebelumnya saya pernah touring motor duet  dengan rekan Arif Septiadi menjajal rute Ujung Genteng Pamengpeuk (catpernya silahkan klik di link berikut ini : http://imamarkan.multiply.com/journal/item/59), selain itu pernah juga turing motor survey tanah di sekitaran Cipanas berlima dengan om Pitra, om Boris, Om Sireng, dan Om Triandi

 

Walaupun tim trekking badui land STAN82 menciut menjadi 8 orang (5 orang STAN82, 2 orang STAN Yunior, 1 orang EO/Penghubung) saya tetep semangat,  setelah saya mencoba profiling peserta yang ikut ternyata saya termasuk yang paling lemah hehehe berikut ini profile dari masing-masing peserta trekking badui land.

 

Ki Slamet, Hobby Traveling dan Fotografi , backpakeran sdh menjadi agenda tetapnya, pendaki gunung, postur tubuh atletis proporsional walau statusnya sudah menjadi kakek tapi fisik dan staminanya tidak diragukan lagi…..hehehe

 

Om Arif Gafar (om AG), rutin lari pagi tanpa sepatu, mantan anggota PALAGAN (pecinta alam bulungan) semasa SMA, postur tubuh proporsional, tidak merokok, walaupun rambutnya mulai putih tapi status bujangannya memberikan nilai tambah tersendiri hehehehe

 

Om Onot, pemain bola semasa kuliah, masih sering mendaki gunung sama om Assue, postur tubuh atletis – ini orang tidak berubah berat badannya sejak dari jaman kuliah, dijamin bakalan lincah banget ngelibas track yang ada – kelemahannya masih merokok…..

 

Om Effo, mantan anggota STAPALA (Pecinta Alam STAN), pernah mendaki semeru, sayang sudah lama tidak beraktifitas outdoor….. postur tubuh obesitas hehehehe kayaknya ini competitor terdekat saya.

 

Saya Sendiri, dengan postur tubuh tinggi 160cm berat 82kg…weeks jelas bukan ukuran yang ideal buat diajak naik turun bukit, apalagi tidak pernah gabung sebagai pecinta alam – kompetensi saya bukan sebagai anak gunung atau anak pantai tapi anak motor alias biker….. modal saya cuma semangat dan keyakinan pasti mampu aja.

 

Elizabeth Fang, mantan wartawati bertubuh mungil ini adalah penghubung kami dengan komunitas badui, traveling dan backpakeran tampaknya sudah mendarah daging buat dia, Eliz juga sudah sangat akrab dengan medan yang ada di badui ini  jadi pastinya punya daya jelajah dan stamina yang tinggi apalagi kalo  sudah pake jurus MSG power alias trekking sambil makan snack yg banyak mengandung MSG hehehehe.

 

Adit – STAN82 yunior; anaknya om Onot ini statusnya pelajar SMA 39, aktivis pecinta alam di sekolahnya tubuhnya tinggi langsing, jadi dari sisi usia maupun tenaga pastinya tidak ada masalah sama sekali untuk berakitifitas di alam badui kali ini.

 

Alin – STAN82 yunior – anak sulung saya ini statusnya mahasiswi FHUI, aktivis pecinta alam semasa di SMA 28, hobby gowes sepeda dan berenang sampai saat ini, jadi kelihatannya tidak ada masalah untuk trekking kali ini.

 

(keterangan foto, dari kiri ke kanan : Adit, Om Onot, Kang Sarpin, Alin, Eliz, om Effo dan Om AG)

 

Jam 22.30 bis elf yang kami charter meninggalkan pelataran parkir Plasa Senayan. Walaupun bisnya mewah full AC dan ruang kaki lega namun ternyata tidak membuat saya bisa tidur dengan mudah – pasalnya om AG dan om Effo saling melontarkan candaan-candaan yang mengundang tawa; menurut mereka sebaiknya puas-puasin ketawa sekarang karena besok pas trekking gak bakalan sempat ketawa lagi karena buat ngatur napas aja sudah susah……

 

Selain itu jalanan yang rusak juga membuat bis selalu terguncang-guncang akibatnya tidur tidak bisa pulas hanya tidur-tidur ayam saja…….huuh capek deh.

***

Ciboleger, Sabtu 12 Februari 2011 jam 03.00 dini hari.

 

 Elf yang kami charter berhenti dipelataran parkir desa Ciboleger, suasana sunyi senyap dan dingin, temaram lampu neon box dari sebuah mini market menerangi pelataran tersebut.

 

Eliz menelepon seseorang memberitahukan bahwa kami telah tiba di Ciboleger; ya kami telah sampai di Ciboleger yang bisa dibilang merupakan pintu masuk utama untuk menuju Badui Luar, hampir semua pengunjung ke Badui Luar masuk dan melapor di Ciboleger ini.

 

Tidak lama seseorang yang di telpon Eliz muncul – lelaki Badui Luar ini diperkenalkan kepada kami sebagai kang Sarpin – dialah orang Badui Luar yang akan menemani kami. Sambil masih terkantuk-kantuk kami bersalaman dengan kang Sarpin.

 

Selanjutnya dengan masih setengah sadar kami membawa barang-barang kami berjalan mengikuti kang Sarpin menuju rumah kerabatnya. Tiba-tiba gelap pekat menyelimuti kami sesaat setelah kami melewati perbatasan antara wilayah Badui Luar dan wilayah non Badui. Kalau tadi masih ada temaram neon box kini benar-benar gelap – rupanya kami telah masuk di wilayah Badui Luar jadi tidak ada listrik diwilayah ini.

 

Untunglah kami telah siap dengan lampu senter dan ternyata rumah kerabat kang Sarpin tidak terlalu jauh tidak sampai 10 menit kami sudah sampai – tadi saya pikir bakalan jalan kaki dalam gelap ber jam-jam (udah sempet ciut juga sih hehehehe)

 

Kang Sarpin mempersilahkan kami menaiki rumah (rumah panggung) dan masuk ke dalam untuk melanjutkan tidur ataupun istirahat kami. Tanpa di perintah dua kali masing-masing segera mengambil kapling tidurnya – tidur dalam suasana gelap didalam rumah berlantai dan berdinding bambu….zzzzz…zzzz…zzzzz.

***

 

Rumah Orang Badui Luar

Sedikit cerita hasil observasi saya tentang uniknya rumah-rumah di kampung Badui Luar ini – yaitu semuanya tidak ada nomor rumah (karena mereka tidak mengenal budaya baca-tulis) dan bentuknya sama semua hehehe (pasti bingung kalo ngasih alamat kali ya); Rumah di kampung-kampung Badui Luar ini berupa rumah panggung setinggi sekitar 40 – 50cm dengan ditopang tiang-tiang kayu,berdinding bilik bambu dan beratapkan daun rumbia dan ijuk.

 

Lantainya terbuat dari batang bambu yang dipecah dan dilebarkan, tidak ada jendela dibagian depan rumah, jendela terletak di samping rumah, sedangkan pintu depan berada ditengah membagi dua rumah simetris menjadi sisi kiri dan sisi kanan.

 

Didepan rumah selalu ada beranda atau teras yang juga berlantaikan bambu, disalah satu sudut beranda biasanya diletakan alat tenun (untuk yg punya lho), melewati pintu depan kita akan menjumpai ruangan yang luas dan memanjang, dimana salah satu sisinya (kiri atau kanan) ada sebuah kamar, sedangkan disisi yang tidak ada kamarnya ada sebuah pintu keluar  ke samping rumah.

 

Diakhir ruangan panjang ini dipisahkan dinding bambu terletak ruangan dapur dengan tungku masak yang menggunakan kayu bakar, agak terpisah dari dapur terletak “kamar mandi” ( saya kasih tanda kutip karena saya tidak yakin apakah ini memang berfungsi sebagai kamar mandi – atau sekedar tempat mencuci, tidak ada wc disini dan ruangan ini juga tidak terlalu tertutup dengan baik makanya saya tidak terlalu yakin ini kamar mandi, tapi ketika saya numpang pipis ditunjukkan ruangan ini). Letak “kamar mandi” ini  berada diatas tanah sehingga ada perbedaan ketinggian dengan lantai rumah yang berada diatas panggung.

 

Rumah orang Badui Luar ini terasa luas dan lapang karena didalamnya tidak ada perabot sama sekali, tidak ada furniture seperti meja, kursi, lemari demikian juga tidak ada tempat tidur. Lantai bambu dan dinding bambunya mempunyai banyak celah sehingga udara bisa mengalir dicelah-celah tersebut. Jika pagi hari/subuh udara dingin diluar leluasa menyelusup masuk,  terasa sekali dalam ruangan besar tempat kami tidur.

 

Mengenai arah rumah tampaknya tidak ada aturan yang baku harus menghadap kemana, rumah kerabat kang Sarpin tempat kami menginap menghadap ke barat, sedangkan rumah kang Sarpin menghadap ke Selatan.

Satu bangunan lain lagi yang menarik dan menghiasi kampung-kampung badui adalah luwit (mudah2an tidak salah tulis) atau lumbung padi, bangunan ini berupa rumah/podok kecil (sekitar 2X2,5m) diatas panggung berdinding bilik bambu dan beratap rumbia+ijuk.

 

Sayang saya tidak sempat bertanya lebih jauh kepada kang Sarpin mengenai nama ataupun fungsi dari masing-masing ruangan dari rumah orang badui, mungkin dalam perjalanan ke badui berikutnya akan saya tanyakan lebih jauh mengenai arsitektur rumah-rumah di kampung badui ini.

***

Kang Sarpin

 

“Mas tadi arah kiblatnya salah mestinya ke sana” kata kang Sarpin memberi tahu saya saat saya selesai menunaikan sholat subuh di beranda rumah kerabat kang Sarpin tersebut, rupanya diam-diam kang Sarpin mengikuti saya ke beranda saat subuh tersebut sementara teman teman masih tertidur. Mungkin lantai bambu yang berbunyi kriet-kriet pas di injak kaki saya telah membangunkan dia.

 

“Ya biarin deh kang, insya Allah Dia mengerti koq” jawab saya sekenanya soalnya males ngulang sholat subuh lagi hehehe.

 

Kang Sarpin demikian nama sahabat Badui Luar kami ini, postur tubuhnya tegap kulitnya coklat tingginya rata-rata orang Indonesia sekitar 160 an cm, pembawaannya riang dan ramah. Terus terang menurut saya kang Sarpin mempunyai kecerdasan diatas rata-rata orang-orang Badui Luar pada umumnya – cara dia bertutur kata, pola pikir dan pandangannya lebih seperti orang modern (non badui) pada umumnya.

 

Kang Sarpin bisa baca tulis dan punya Handphone juga loh nah modern kan? – dia juga bekerja sebagai perangkat desa di desa Kanekes ini.

 

Kang Sarpin mempunyai seorang isteri (Teh Misnah) dan dua orang putra Mul dan Marno.

 

Kang Sarpin selain sebagai perangkat desa, pekerjaan lainnya adalah berkebun atau berladang yang mana kebunnya tersebut ditanami coklat, hasil coklat ini dijual oleh kang sarpin ke Rangkas (Rangkasbitung)

 

Mungkin karena seringnya kang Sarpin berinteraksi dengan orang luar badui menyebabkan dia lebih berwawasan di banding dengan warga badui lainnya.

***



Blog EntryDec 15, '10 10:08 PM
for everyone
Sudah beberapa bulan ini saya tidak bisa menuliskan buah pikiran saya ke dalam blog saya atau juga di fb saya.....

Bukannya tidak ada yang ingin di ceritakan atau dituliskan, banyak sekali sebenernya, namun timbunan pekerjaan yang tidak ada habis-habisnya menguras waktu dan pikiranku.....

Akibatnya seperti tidak ada sisa ruang di otakku untuk menulis apa yg pernah terlintas ingin di tuliskan.....gagasan-gagasan cerita seperti buntu......

Ya sudah aku putuskan untuk mulai menulis dengan cerita buntu ini......hehehe

sudah dulu ya......


Blog EntrySep 8, '10 1:41 AM
for everyone

Dengan nama Allah yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang


Ya Alloh, ya Robb

Sungguh aku telah banyak berhutang budi kepada kedua orang tuaku.

Dan aku tahu aku tak akan mampu membalas kebaikan mereka….


Ya Alloh, ya Robb

Hanya Engkaulah yang mampu membalaskan budi baik mereka

Maka aku memohon kepada-Mu ya Alloh

Sayangilah kedua orang tuaku sebagaimana mereka menyayangiku di waktu kecil

Ampunilah dosa dan kesalahan yang mereka perbuat semasa hidup nya

Lapangkanlah kuburnya

Lepaskanlah mereka dari siksa neraka.


Ya Alloh, ya Robb

Balaslah amal kebajikan yang mereka perbuat dengan pahala-Mu yang berlipat-lipat.

Berilah mereka kemuliaan dihadapan Mu


Ya Alloh, ya Robb

Masukanlah mereka kedalam surga-Mu yang mulia

Sungguh aku ridho dan ikhlas mereka mendapatkan surga-Mu


Ya Alloh, ya Robb

Kabulkan doa dan permintaanku ini,

Amiiin ya robballamiin.



Blog EntryJun 26, '10 5:51 AM
for everyone

Sabtu - Juni 26, 2010,

Hari ini Bang Arif terima raport, kami menjemputnya dari asrama dan mengajaknya pulang ke rumah. Bang Arif adalah anak kami yang bersekolah di SMA - SLB C (sekolah luar biasa C) yayasan Nusantara, sehari-hari dia tinggal di asrama yayasan Nusantara - Depok, paling satu bulan sekali kami meminjamnya (istilah untuk libur dari dari asrama) pada hari Sabtu untuk tinggal dirumah dan hari Minggu malamnya sudah kami antar kembali ke asrama.

Buat yang ingin tahu bang Arif itu siapa bisa klik disini http://imamarkan.multiply.com/journal/item/33 http://imamarkan.multiply.com/journal/item/39.


Insya Allah dalam dua minggu ke depan bang Arif akan menghabiskan liburan sekolahnya di rumah, dan kami akan menjadi keluarga yang utuh lagi

Kami harus siap mendengarkan pertengkaran-pertengkaran kecil antara Aliya (anak kami yang bungsu) dan Bang Arif (dua-duanya sering tidak mau ngalah yang kecil kadang sok tau sebaliknya yang besar suka jahilin yang kecil), tinggalah kak Alin nya (anak kami yang sulung) yang bakalan repot menengahi mereka, Rebutan komputer, Rebutan saluran TV ataupun Saling ejek-mengejek dan suara tv ataupun komputer yang hidup sepanjang malam (bang Arif susah tidur) akan menghiasi kejadian sehari-hari.

Kehebohan-kehebohan itu kadang menggelikan, tapi juga kadang menjengkelkan....namun itulah dinamika keluarga kami, jadi kami menerimanya apa adanya.

Kelaziman saya setiap liburan sekolah pastinya ada turing keluarga....dan untuk itu jauh2 hari saya sudah mengajukan cuti supaya bisa berlibur dengan keluarga, dan selama ini sih selalu berjalan lancar dan menggembirakan. Setelah mempertimbangkan berbagai hal saya dan isteri sepakat untuk mengambil cuti dari tanggal 1 Juli s.d 5 Juli, cuti saya ajukan tanggal 16 Juni dan sudah di setujui oleh Atasan saya....siiip lah.

Namun entah mengapa rencana liburan tengah tahun kali ini semuanya berjalan tidak sesuai dengan rencana saya, dalam waktu satu minggu semua rencana jadi berantakan dan ditambah beberapa situasi yang membuat saya jengkel dan gusar......bener2 kacau

Dimulai dengan keluarnya edaran kantor pusat yang memajukan dead line laporan bulanan menjadi tanggal 5 bulan berikutnya, dan berlaku untuk laporan bulan juni 2010; Hiks ini berarti saya harus standby di kantor pada tanggal 5 july......(walaupun saya yakin staff2 saya mampu menyelesaikannya namun tetap ada perasaan bersalah jika saya tidak ada bersama mereka....)

Selanjutnya Alin menginfokan kalo dia ada UTS tanggal 2 juli berarti dia gak mungkin ikut jika jadi turing keluarga....weeeks.

Semakin muram lagi ketika ibu mertua harus dirawat masuk ICU pada 23 juni......hiks.

Ditambah lagi dengan beberapa situasi yang menjengkelkan yang antara lain menyebabkan saya memilih mundur dari kepengurusan suatu organisasi, ataupun komunikasi macet yang bikin saya dongkol luar biasa......

Yah kelihatannya liburan kali ini harus berjalan dengan kelabu.....

Maaf ya bang Arif dan Aliya kalian tidak bisa liburan dengan nyaman kali ini......
Semuanya ada yang mengatur, entah apa yang di inginkan Allah dengan semua ini - tapi pastinya baik buat kita semua.......

Demikianlah kehidupan anakku, tidak semua yang kita harapkan bisa kita peroleh, ada yang lebih berkehendak dari pada kita.....

Mudah-mudahan Allah memberikan kesabaran kepada kita, dan menghilangkan ke jengkelan serta kegusaran hati saya......

Insya Allah lain waktu pasti ada liburan bersama lagi dimana kita bisa menghabiskan waktu bersama, bercanda dan berbagi cerita.......



Blog EntryJun 4, '10 9:45 PM
for everyone
the horse and the temple

Jum'at 14 Mei 2010, Lautan Pasir Bromo.....jam 11.30...

Kami tiba diparkiran dengan kaki yang lumayan capek, terutama dengkul kaki saya terasa nyeri ketika harus menahan bobot tubuh saya saat menuruni anak tangga dari kawah bromo....dasar dengkul tuwir hehehehe.

Kami kumpul sebentar untuk koordinasi, rencananya dari sini kami akan ke Penanjakan dan selanjutnya buka tenda di Penanjakan, baru besok paginya setelah melihat sun rise kami akan turun kembali ke Tulung Agung.

Ternyata Adik dan ponakan bro Kholik tidak ikut serta nge-camp di Penanjakan, mereka ingin pulang ke Tulung Agung karena hari Sabtunya mereka ada pekerjaan, jadi nanti di Penanjakan mereka akan berpisah dan melanjutkan perjalanan ke Tulung Agung.

Rencana untuk mengunjungi goa widodaren disisi barat bromo juga terpaksa kami drop karena sudah terlalu siang, badan sudah lelah dan ingin segera istirahat.

Setelah jelas semuanya kami pun bersiap untuk melanjutkan perjalanan. Dari tempat kami parkir sudah terlihat bukit terjal yang harus kami daki, dan jalanannyapun terlihat bagaimana kemiringannya yg luar biasa serta cukup panjang konon kemiringannya mencapai 60 derajat.......hiks udah kebayang motor saya pastinya akan tersiksa dan susah melewatinya.

bromo caldera

Tanjakan inilah salah satunya yang menyebabkan jip-jip toyota hardtop sewaan menjadi laris, karena hanya kendaraan dengan power yang besar dan gardan ganda yang mampu melewati tanjakan seperti ini. Selain tentunya kendaraan2 gardan ganda ini mampu melewati lautan pasir dengan aman - tidak takut terbenam di pasir.

Rombongan kami berhenti sejenak dibawah tanjakan terjal ini, selain untuk memberikan kesempatan motor saya mendinginkan koplingnya, juga untuk sessi foto-foto terakhir sebelum meninggalkan lautan pasir yang mempesona (soalnya nggak tau kapan balik lagi berkunjung kesini hehehe)

Serombongan anak muda dengan menggunakan motor melewati kami....mereka menuju tanjakan terjal tsb. sehingga kami putuskan berhenti agak lebih lama memberi jeda waktu agar mereka lewat dulu.

Selang lima menit, kami putuskan bergerak.....saya di depan....wussss saya betot gas, motorpun bergerak dan langsung berhadapan dengan tanjakan maut ini, gila nih tanjakan nggak ngasih ancang-ancang....langsung naik terjal dan mendongak, di ujungnya membelok patah sesuai lekukan pinggang bukit....begitu belok jalanannya tetep nanjak....hehehe mana jalannya jelek lagi...hiik

menatap alam luas


Ngungg.....nguunnngg....ngunnnggg....mesin motor ku meraung-raung mencoba menaklukan tanjakan edan ini, masih bisa naik dan bergerak dengan....40kpj...30kpj...20kpj...hiks kecepatannya semakin melambat....waks tiba-tiba didepanku ada rombongan anak muda yang tadi melewati kami.....rupanya sebagian motornya nggak kuat nanjak...jadi mereka jalan kaki ndorong motornya;
jalanku terhalang...... sial...saya mesti mengerem....yaaah hilang deh tenaga motor saya...saya coba gass lagi tapi tidak ada pergerakan maju.... diem ditempat.....

Hiks....motor saya kehabisan nafas....koplingnya selip lagi, terpaksa minggir berhenti sambil menekan tuas rem kuat-kuat, karena kalo rem dilepas motor serasa di betot kebelakang saking terjalnya tanjakan ini.

Satu per satu temen rombongan melewat saya....posisinya memang sulit untuk berhenti karena ditanjakan, terakhir bro UJ datang, melihat motor saya berhenti, bro UJ ingin membantu menolong.... dia coba berhenti di belakang motor saya, namun tempat dia berhenti ternyata permukaannya berkerikil, sehingga ketika motornya berhenti dan terbetot kebelakang saat direm ban depannya tetep meluncur karena tdk ada pegangan yg kuat, walhasil motor bro UJ pun sukses nyungsep setelah beberapa meter meluncur kebelakang.....

Saya lihat bro UJ kesulitan mendirikan scorpionya, saya sendiri tdk bisa membantu karena harus memegangi motor saya.....wah bener2 situasi yg sulit.

Untungnya tdk lama ada pengendara lokal yang lewat dan membantu bro UJ. Selanjutnya kami mencoba memindahkan posisi motor ketempat yang lebih aman, saya dorong motor saya dibantu biker lokal yg tadi membantu bro UJ.....uuuuh berat banget, gila ndorong motor full loaded di penanjakan tengah hari bolongpula....ampun deh ini olahraga paling unik di dunia kali.....gak sampe 50m, habis sudah nafas saya...fuuh..haap...haap....haap....saya megap-megap.

Hampir sepuluh menit saya menunggu agar nafas saya kembali normal...huh..

Setelah berunding dengan bro UJ akhirnya kita putuskan motor saya ditarik oleh motor bro UJ, untunglah saya selalu siap tambang di toolkit bag untuk turing saya.....

view dari penanjakan

Dengan ditarik motor Bro UJ akhirnya kami sampai di pertigaan Wonokitri - Penanjakan, dimana jalan yang ke kiri menuju wonokitri yang lurus menuju penanjakan, Adik dan Ponakan bro Kholik berpisah disini, mereka ke kiri menuju wonokitri dan lanjut ke Tulung Agung.

Sedangkan kami setelah meminggirkan motor di pertigaan tsb, segera menuju ke sebuah warung untuk makan siang (eh salah makan indomie ding, hiks tdk ada yg jualan nasi) sambil mencoba istirahat mengembalikan tenaga yg terkuras....apalagi jam sudah menunjukan pukul 12.30....weeww capeknya asli....

Jam 13.15 kami lanjutkan perjalanan ke penanjakan. motor saya tetap ditarik motor bro UJ, tidak sampai setengah jam kami sudah tiba diPenanjakan.

Penanjakan siang itu sepi, hanya ada satu warung yang buka. Rupanya penanjakan sehari-hari memang seperti itu, ramainya mulai dari jam 03.30 dini hari sampai jam 08.00 saja yaitu saat wisatawan datang melihat sun rise, selanjutnya ya sepi jarang warung yang buka bahkan toilet pun tutup jam-jam segitu (lewat dari tengah hari).

buka tenda di penanjakan, bro kholik kedinginan


Begitu tau kami akan buka tenda si pemilik warung menawari kami untuk menjaga motor kami, tarifnya 10 ribu per motor, yang kami ok kan saja selanjutnya kami ke atas untuk mencari lokasi buka tenda, disinipun begitu juga untuk kebersihan dan keamanan kami dikenai Rp 10 ribu. Beruntung kami masih ketemu penjaga toilet yang akan pulang ke wonokitri, dan ybs akhirnya bersedia tetep memberi kami akses ke toilet sepanjang malam dengan membayar rp 10 ribu.....hihihi ini kayaknya negeri serba sepuluh ribu.....

Lokasi camping kami disebuah sudut yg masih berada di pelataran gardu pandang, jadi di jamin besok pagi kami akan terbangun oleh ramainya pemburu matahari terbit dari berbagai negara....hehehe (beneran banyak orang bule kemari loh).

Setelah dengan susah payah membawa peralatan camping kami dari parkiran motor ke atas di area gardu pandang, maka tanpa babibu pun kami langsung membuka tenda.....satu-satunya yang ada di pikiran kami adalah segera buka tenda kemudian merebahkan diri untuk istirahat.......kami bener2 sdh kelelahan.

Maka begitu tenda terpasang. saat itu masih pukul 14.00 siang...segera saja saya merebahkan diri dan tertidur......zzz...zzz...zzz, tanpa mempedulikan sebagian barang-barang yg masih tertinggal diluar tenda - soalnya siapa yg mau mencuri ya, sepi banget tidak ada pengunjung kecuali disebelah bawah ada juga yang buka tenda seperti kami ...

Jum'at 14 Mei 2010. Penanjakan (2700mdpl) jam 17.00......

Udara dingin yang menerobos masuk dari pintu tenda yang saya biarkan terbuka berhasil membuat saya terbangun.......ketika saya mencoba meregangkan kaki sebelum bangun, tiba-tiba kaki kiri saya kraam.....arrrrgh sakitnya minta ampun, Untung bto Kholik yg tidur disebelah segera terbangun dan membantu......fuiiih kelihatannya saya memang benar2 keletihan, sampai2 tidur saja kaki bisa kraam.

menghangatkan diri

Saya coba keluar supaya bisa menghirup udara segar dan melemaskan otot kaki saya....eh ternyata cuaca diluar lagi cerah, gunung Bromo, gunung Batok dan Semeru di latar belakangnya terlihat jelas.

Tadi siang ketika kami sampai di penanjakan ini gunung-gunung tersebut tertutup awan dan kabut.
Buat para fotografer cuaca di Bromo kali ini pasti akan bikin pusing, cepat sekali berubahnya dari yang tertutup kabut, kemudian cerah dan kembali tertutup kabut bisa terjadi dalam hitungan menit saja.

Golden time or Golden moment yang biasanya ada di pagi hari atau sore hari harus bener-bener di tungguin dan siap dengan kamera yang siap bidik. Kalo tidak bisa-bisa bakalan kecewa sudah jauh-jauh datang tapi kehilangan momen yang indah.

Memang sebaiknya mengunjungi Bromo ini baiknya saat musim kemarau kira-kira Juli - Agustus, biasanya udara cerah, tapi memang malamnya jadi lebih dingin.

Jadi sore itu saat cerah begini tidak saya sia-siakan untuk coba ambil beberapa foto, tapi tangan yang kedininginan dan badan yang masih terasa letih menyebabkan saya lebih suka buru-buru masuk kembali ke dalam tenda dari pada asyiik ngambil foto di udara terbuka yang dingin di sore tsb,

Sementara itu bro UJ dapet sewaan tungku (anglo) dari orang warung - dengan membayar rp 10 ribu tentunya, (arengnya beli sendiri). Sementara itu karena hari sudah menjelang magrib, kami segera masak air panas untuk menyeduh popmie dan kopi, menggunakan kompor gas yang saya bawa. Kompornya berupa kompor lipat, bahan bakarnya menggunakan tabung gas sebesar kaleng Pilox, antara tempat api dan tabungnya dihubungkan dengan selang karet dan sebuah regulator di ujung tabung gas.

Walaupun ada sedikit masalah diregulatornya namun malam itu kami sukses memaksa popmie dan minum kopi hangat, lumayan lah.....walau sebenernya perut ini sangat merindukan nasi.....maklum perut orang indonesia, kalo belum ketemu nasi rasanya ya belum makan gitu.....hihihihihi.

crowded @ penanjakan

Begitu selesai isi perut, saya dan bro Kholik langsung masuk tenda dan menutup pintu tenda dan mulai ber hibernasi....., saya masuk kedalam sleeping bag, jaket plus kupluk yang menutupi kuping saya serta sarung tangan sangat membantu meredam dingin nya penanjakan....

Sementara bro Kholik yg tidak membawa sleeping bag (untung bawa matras dia), terpaksa menggunakan jaket dan baju lima lapis plus kupluk, kaos kaki dan kerukupan sarung itu saja masih kedinginan dia....hihihi.

Ditenda sebelah (kami membawa dua tenda) bro UJ sendirian entah lagi sibuk ngapain dia.

Malam itu penanjakan disiram hujan lebat yang disertai guntur yang bersahut-sahutan, entah apa karena kami di ketinggian (2700 mdpl) , suara gunturnya terdengar lebih keras dan menyeramkan ...untungnya tidak sampai 20m dari tempat kami berkemah ada beberapa tower BTS milik beberapa operator telpon seluler, jadi pastinya ada penangkal petirnya.... so kami aman dong dibawahnya hehehe

meniti jalan setapak di pinggir caldera

Hujan lebat tersebut ternyata berhasil menembus tenda bro UJ, bro UJ tanya ke saya dimana lap kanebo saya, dia mau mengeringkan lantai tenda....


"Wah lap kanebo nya ada di box Givi di motor, nih kuncinya kalo mau ngambil di parkiran motor" kata saya sambil menjulurkan kunci dari pintu tenda yg saya buka sedikit aja cuma pas buat kunci lewat, gak berani buka gede-gede saking takutnya udara dingin menyerbu ke dalam tenda hehehe....

"Sekalian ambilin kotak obat-obatan gw ya Bro, badan gw agak demam nih perasaan" lanjut saya.
Memang benar badan saya terasa seperti demam, mungkin kerena sangat kelelahan dan kondisi cuaca yang ekstrim badan saya terasa lemas kehabisan tenaga dan agak demam.

Begitu bro UJ kembali dengan kotak obat saya segera minum tolak angin, dan vitamin serta panadol setelah itu segera meringkuk kembali ke dalam sleeping bag berusaha untuk segera tidur.......

Sabtu, 15 Mei 2010, Penanjakan jam 03.30 dini hari.....

Suara-suara langkah kaki orang, dan orang bercakap-cakap disekitar tenda kami, membangunkan saya dari tidur.....uuuh sudah mulai berdatangan rupanya para pemburu matahari terbit ini..... Hujan sudah berhenti, entah jam berapa berhentinya yang masih tersisa kini udara dinginnya dan bumi yang basah....


Saya coba intip dari pintu tenda....waaks ramai banget, saya meringkuk lagi dalam sleeping bag, enakan tidur aja aah diluar dingin dan crowded banget, barulah sekitar jam 4.30 kami bangun, karena masih dingin dan gelap kami cuma duduk-duduk dipintu tenda masing2 sambil menghangatkan diri didekat tungku yang kami nyalakan.

Saya mencoba memasak air dengan kompor gas untuk membuat kopi guna menghangatkan diri, beberapa saat setelah kompor menyala, ternyata ada masalah diregulator yg ditabung gas, aliran gasnya tidak stabil, membuat apinya membesar sendiri.

Saya coba membetulkan regulatornya, tapi malah menyebabkan adanya kebocoran cairan lpg keluar dan mengalir sepanjang selang karet....menuju api kompor.....dalam hitungan detik....Bluuuup...api menyala sepanjang selang karet dan tabung gas.....


Kaget dan panik, reflek saya raih tabung gas yang terselubung api itu, dan mencoba melepaskan dari selang karet nya....begitu berhasil saya lempar tabung terbakar itu menjauh....cuma karena panik tabung yang dilempar menjauh itu malah masuk ke dalam tenda nya bro UJ.....

Gantian bro Uj yang panik ada api berkobar di dalam tendanya..... buru-buru diraih tabung api tsb, trus dilemparkan keluar.....kali ini arahnya bener, ke arah semak2 menjauh dari tenda kami dan menjauh dari orang-orang..... tapi masih menyala - takut meledak buru-buru saya lompat dan menyungkupnya dengan tabung tempat gelas......pssh api nya mati....hehehe lega.

fuuuh hampir aja kejadian kebakaran, kita bertiga masih kaget, tapi akhirnya ketawa sendiri inget kejadian itu....orang-orang bule yang liat mungkin ngira kita lagi main debus tuh, lempar-lemparan tabung berapi antar tenda.....hahahaha, kagak tau kita lagi panik.

Menjelang jam 5.30 mulai terlihat warna jingga matahari di ufuk timur, bro UJ segera berbaur dengan pemburu matahari lain, saya sendiri tidak terlalu tertarik, selain sudah pernah liat, dan badan yg masih kelelahan suasana yang crowded juga bikin males, akhirnya enakan liatin atau motoin para pemburu matahari ini aja.

Baru deh setelah jam 6.30 an dimana suasana sudah lebih terang dan sebagian pemburu matahari sudah mulai meninggalkan lokasi, saya coba ambil beberapa foto - saya cukup beruntung....karena menjelang jam 07.00 tiba-tiba mendung dan kabut datang.....tidak lama kemudian hujan gerimispun turun......

Akibatnya tidak ada pemandangan yg bisa dilihat, para pemburu mataharipun meninggalkan penanjakan, kini penanjakan sepi kembali.......tinggal kami yang ada dan tetangga kami yang buka tenda disebelah bawah.....

Jam 7.30 kami mulai packing, dilanjutkan membongkar tenda, dalam cuaca berkabut dan hujan gerimis kami pun meninggalkan area gardu pandang penanjakan, menuju parkiran motor......mission complete.

kuda ngobrol sama kuda, orang ngobrol sama orang


Setelah menyelesaikan pembayaran parkir motor sekitar jam 08.00 kamipun melanjutkan perjalanan menembus udara dingin, pekatnya kabut dan hujan gerimis, menyusuri jalanan yang berkelok-kelok menuju wonokitri kemudian mengambil jalan yang ke arah Nongko Jajar dan akhirnya menuju ke Malang

Entah kenapa motorku terasa normal kembali, bahkan melewati tanjakan-tanjakan di Nongko Jajar pun mampu dilalui tanpa masalah, karenanya rencana untuk mampir ke Bengkel Resmi di Malang kita batalkan, padahal saya sudah mengantongi sejumlah alamat bengkel yang dikirim oleh Rekan saya di SOC (Skywave Owner Club) - terima kasih buat Aa Gandi dan Bro Herdiansyah yg sdh ngirimin alamat bengkel via sms......

Sekitar jam 10.00 kami sudah tiba di Malang dan kami lanjutkan terus ke Tulung Agung; Hehehe Target turing untuk exploring bromo memang sudah terpenuhi.....tapi sebenernya turing belum tuntas karena sesuai schedule malam ini kami harus sudah sampai di Yogya menginap semalam di yogya kemudian hari Minggunya kembali ke Jakarta.....hiks masih ada perjalanan panjang untuk menuju rumah kami......

Jam 12.15 kami tiba di kediaman Bro Kholik di Tulung Agung,....ah kamipun mandi dan bersih-bersih....aah segarnya bisa membersihkan badan - soalnya di penanjakan nggak berani mandi....dingin boo..lebih nikmat lagi setelah mandi kami bisa santap siang dan ketemu Nasi.....hehehehe

Rencananya kami akan berangkat melanjutkan perjalanan ke Yogya jam 14.00 tapi karena braket box motor bro Kholik retak dan nyaris patah, maka diputuskan keberangkatan di undur sampai braket motor bro kholik selesai di las dan diperbaiki.....

Akhirnya kami baru bisa berangkat pukul 16.00 dari Tulung Agung di iringi dengan hujan lebat.....tanpa buang waktu kami langsung melanjutkan perjalanan seperti rute kemarin tapi dari arah yang sebaliknya...

Setelah mengambil jalur alternatif sukoharjo - klaten (delangu) kemudian dilanjutkan dengan klaten - yogya, kamipun berhasil mencapai yogya - tepatnya di kediaman Bro Gumulya pada pukul 22.30.

Minggu, 16 Mei 2010 - Yogya (kediaman bro Gumulya) pukul 07.00

Kami bermalam di kediaman bro Gumulya malam ini dan keesokan paginya setelah sarapan nasi gudeg sajian dari tuan rumah pada pukul 07.00 kami pun melanjutkan perjalanan, menuju Jakarta via Purwokerto.......(Buat Bro Gum dan Keluarga terima kasih banyak ya, telah bersedia menampung biker-biker kelelahan ini)

Ini adalah etappe-etappe melelahkan, dimana memang stamina tubuh sudah menurun sementara kami masih punya target harus sampai rumah pada hari Minggu, supaya Senin nya sudah bisa masuk kantor. Jadi memang fisik dan mental bener-bener di uji ketahanannya untuk tetap bisa mengendarai motor dengan safety.

@ yogya


Alhamdulillah perjalanan lancar sekali, jam 10.00 kami sudah tiba di Purwokerto - kami mampir ke bengkel untuk memperbaiki lampu motor bro kholik serta menambah oli. Jam 11.00 kami makan siang di soto ayam jalan Bank, yang memang sudah terkenal sejak dulu......

Cirebon bisa kami capai pada pukul 16.00 setelah melewati jalan yang jelek dan rusak lumayan parah antara prupuk - ketanggungan, sayangnya hujan lebat yang mengguyur Cirebon menyebabkan kami memutuskan istirahat dulu sambil ngopi-ngopi.

Semangat kami sebenarnya bangkit lagi setelah sampai di Cirebon, tinggal 250km lagi menuju Jakarta, perhitungan kami jam 22.00 akan tiba di Jakarta.....namun perkiraan kami salah, kesabaran dan ketangguhan kami masih harus di uji lagi....hujan yang mengguyur sejak cirebon tidak berhenti-henti menyebabkan perjalanan tidak secepat yang kami kira, yang lebih menyebalkan lagi adalah kemacetan panjang di daerah ciasem - subang, benar-benar menguras sisa-sisa tenaga kami.....

Alhamdulillah semuanya berhasil kami lalui.....pukul 23.15 kami berhasil mencapai perempatan Metropolitan Mall - Bekasi, titik dimana kami sepakat menyatakan turing berakhir dan tempat dimana kita berpisah menuju rumah masing-masing......Bro Kholik ke kanan menuju Priok, sementara saya dan Bro UJ lurus menyusuri Kali Malang.....Kami bersalaman disini dan melanjutkan perjalanan masing-masing

Saya berpisah dengan bro Uj di Kalimalang ini saya lanjut ke Poltangan Pasar Minggu dan Alhamdulillah tiba dengan selamat tepat pukul 24.00 disambut oleh isteri saya yang memang sudah menunggu...

@ purwokerto


Terima kasih ya Allah......saya sungguh-sungguh bersyukur turing marathon ini bisa terlaksana, praktis kami menyelesaikan turing ini dalam waktu 99 Jam, atau 4 hari, 3 jam...menempuh jarak sekitar 2.000km.

Terima kasih juga kami ucapkan kepada seluruh brother and sister yang telah mendukung dan mendoakan keselamatan kami......juga terima kasih buat mbah Gaek - pak Jafron yang selalu monitor posisi kami...

gerabah


Demikian catatan perjalanan saya kali ini - sampai bertemu di cat-per lainnya

Salam/imam arkan
Samudera Indonesia Motor community SIMC - 018
Skywave Owner Club SOC - 157
Mailing List Yamaha Scorpio - MiLYS - 170


Blog EntryJun 1, '10 6:00 AM
for everyone
Savana dan bukit teletubies

Jum'at 14 Mei 2010, Ranu Pane ....jam 06.00

Kabut masih mengambang tipis, ketika kami bergerak meninggalkan Ranu Pane, saya minta ijin jalan di depan supaya motor saya tidak kehilangan ancang-ancang ketika melibas tanjakan menuju pertigaan jemplang.

Walaupun sambil menggigil kedinginan namun tangan saya masih mampu memainkan stang motor di jalanan rusak yang berkelok-kelok ini. Apalagi kini hari semakin terang sehingga jalanan agak lebih jelas terlihat walaupun masih ada kabut tipis mengambang......

Jalanan sekitar 1 km dari Ranu Pane masih menyisakan aspal jalanan, jadi masih enak dilalui, selanjutnya lebih banyak aspal yang terkelupasnya, di ruas yang lebih jauh dari Ranu Pane jalannya malah tersusun dari balok2 beton seperti paving blok, tapi sebagian sudah hancur, sehingga bongkahan2 betonnya berserakan....

me ditengah savana

Yang jelas rute ini sulit untuk dilewati kendaraan sedan, atau bahkan minibus biasa. yang biasa melalui rute ini adalah truk pengangkut hasil pertanian, ataupun jip dan kendaraan yang bergardan ganda. Lebar jalannya pas-pasan saja untuk lewat satu mobil, tadi malam saja ketika menunggu kopling motor saya dingin kami terpaksa meminggirkan motor ketepi supaya sebuah mobil Ford 4x4 akan lewat; si penumpang mobil sempet kelihatan terkejut melihat kita dini hari seperti itu ada ditengah hutan gitu, dia pikir kami rampok kali ya....hehehe; sepi sekali soalnya.

Memang rute Malang - Tumpang - Ngadas - Jemplang - Bromo ini bukanlah rute yang lazim dilalui wiasatawan, rute ini dan juga rute Lumajang - Senduro - Ranu Pane - Jemplang - Bromo lebih lazim dilalui oleh para pendaki gunung yang ingin mendaki ke gunung Semeru. Kalo ada wisatawan yg lewat sini pastilah dia wisatawan dengan minat khusus - adventurir, atau seperti kami wiatawan rada nekat hehehehe

Sehingga tidak heran jika jalannya hancur-hancuran seperti ini. bro Kholik aja sempet geleng-geleng kepala wah jadi jalan ancur gini yang kita lewati semalem koq bisa ya....hihihihi

Mendekati jemplang saya berhenti sebentar, selain untuk mendinginkan kopling kembali, juga untuk melihat pemandangan yang spektakuler.....disisi kanan kami tebing terjal....menuju ke lembah, di dasar lembah tersebut tampak padang savana dibelakang padang savana terdapat bukit2 selatan gunung bromo (sering disebut orang bukit teletubies), lautan pasirnya sendiri dan juga gunung bromonya masih tersaput kabut tebal..... pemandangan yang sangat indah ditambah udara yang masih dingin membuat kami merasa kecil......melihat ciptaan Allah yang sangat agung ini......Subahanallah


Dibawah sana juga terlihat garis-garis jalan setapak yang akan kita lalui menuju lautan pasir bromo ini....

Jum'at 13 Mei 2010, jam 06.30 - Pertigaan Jemplang

Dari pertigaan Jemplang kami membelok ke kekanan turun kebawah kaarah lautan pasir Bromo, kami menyusuri jalan kecil kira-kira lebar 2,5m terbuat dari blok-blok beton seperti paving block.

Jalan ini terus menurun membelah padang savana, kami berada disisi selatan dari gunung bromo yang hijau kecoklatan karena warna dari padang savana, dilatar belakang savana ini terdapat perbukitan yang sering disebut juga bukit teletubis.

jajaran jeep toyota hard top

Jalur yang kami ikuti ini melingkar dari sisi selatan menuju ke sisi samping timur bromo dan nantinya akan bertemu dengan jalur utama wisatawan yang berasal dari Ngadisari/Cemoro Lawang.

Jalur Ngadisari/Cemoro Lawang ini melintas disisi utara gunung bromo, yang selanjutnya apabila diteruskan ke Barat akan tiba di Penanjakan/Wonokitri.

Jalanan beton kini berakhir, motor-motor kami menjejakan rodanya ke dilautan pasir Bromo.....ada perasaan puas, setelah menempuh lebih dari 900 km akhirnya kami berhasil tiba di lautan pasir bromo, memang kami bukan orang pertama yang menjejakan roda motornya ke lautan pasir bromo, namun hal demikian tidak mengurangi kepuasan hati kami.....

jajaran kuda sewaan

Mengendarai motor di atas pasir bukanlah hal yang mudah, permukaan pasir yang lembut tapi masif, seringkali membuat ban motor kami tidak terkendali, sehingga kadang jadi geal - geol untuk menyeimbangkannya.

Beruntung hujan yang masih sering turun (harusnya sdh masuk kemarau lho) membuat permukaan pasir menjadi basah dan padat sehingga motor lebih mudah di kendalikan, begitupun saya sempat terjatuh ketika mencoba membetulkan letak handycam sambil mengendarai motor.....tiba2 saja ban depan melindas gundukan pasir dan membuat motor oleng dan hilang keseimbangan.....dan gubraaks motorku nyungsep, saya sendiri tidak terjatuh...... untungnya pasir yang lembut tidak membuat kerusakan sama sekali kepada motorku.....

Tips yang paling aman mengendarai motor di lautan pasir ini adalah dengan melintas diatas jejak-jejak roda mobil yang melintas sebelumnya.selain permukaannya sudah padat juga dijamin tidak kesasar.

stairway to bromo

Membuat jalan pintas sendiri mengandung resiko, terbenam dipasir dan kesasar.

Mengendarai motor diatas lautan pasir Bromo yang luas di pagi hari sungguh memberikan nuansa yang berbeda.....sensasinya kita seperti mengendarai motor di negeri atas awan, lautan pasir hitam membentang, kabut tipis mengambang, suhu yang dingin menusuk kulit, di kejauhan bukit2 yang merupakan dinding kaldera purba tersaput awan.......bener-bener spektakuler.

Kami beriringan menyusuri jejak roda mobil, yang akhirnya membawa kami ke jalur utama wisatawan - didepan pura, terdapat lapangan parkir, didalamnya telah berjejer belasan jeep toyota hardtop, yang baru saja mengantarkan wisatawan dari penanjakan dan sekarang mereka sedang menunggu wisatawan yg mereka antar tersebut menikmati Bromo.

menatap alam luas

Tidak mau kalah dengan jejeran Jeep Toyota tersebut, terdapat juga jejeran kuda-kuda sewaan yang siap mengantar wisatawan dari tempat parkiran sampai ke bawah tangga pendakian gunung Bromo.

Tarip resmi kuda sewaan ini Rp 100 ribu (pulang dan pergi) dari area parkiran ke bawah tangga Bromo tidak mau kurang dari itu. Namun jika kita mau jalan sedikit setidaknya sampai di pura maka tukang2 kuda sewaan ini bersedia menurunkan harganya menjadi Rp50 ribu (pulang dan pergi).

Kami menuju ke area parkiran, disini sekarang sudah ada Toiletnya (dua kali kunjungan saya sebelumnya th 84 dan 2002 toilet ini belum ada), setelah parkir yang kami cari pertama adalah penjual makanan, kami cari sarapan dulu mengingat saat itu sudah hampir pukul 08.00 pagi.

kuda ngobrol sama kuda, orang ngobrol sama orang

Setelah di isi nasi pecel Bromo dan segelas teh manis hangat, kami pun mulai exploring Bromo Saya, Bro UJ, Bro Kholik dan satu Keponakannya menuju ke puncak bromo, sementara Adik Bro Bromo ditemani keponakannya menunggu di parkiran karena merasa kurang enak badan (mungkin karena tenaganya terkuras setelah jalan semaleman menaklukan medan off road Tumpang - Ngadas - Ranu Pane).

Untuk menghemat waktu dan tenaga kami memilih naik kuda dari sekitar pura, dan hanya untuk berangkatnya saja, pulangnya kami putuskan jalan kaki saja, jadi kami hanya bayar Rp25 ribu per kuda.....hehehe pengiritan.

Tiba dibawah tangga Bromo, kini giliran dengkul-dengkul kami diuji ketangguhannya, saya sudah lama tidak badminton maupun futsal, terasa sekali pengaruhnya belum lama menapaki tangga - nafasnya sudah habis tersengal-sengal....hehehe, untung ada tempat istirahatnya.....

the horse and the temple

Akhirnya sampai juga diatas puncak gunung Bromo (2300mdpl), dan bisa menyaksikan pemandangan indah sekelilingnya, meskipun sudah tiga kali ke sini rasanya gak bosen-bosen ngeliat pemandangan disini.

Setelah foto session diatas puncak Bromo selesai kamipun kembali kebawah dengan berjalan kaki.

to be continued......

Blog EntryMay 24, '10 12:40 AM
for everyone
Kamis, 13 Mei 2010 Cirebon....jam 02.00 dini hari....

"Je...cari makan dulu je, Laper nih..." melalui HT saya kontak bro UJ untuk memberi tahu tim akan berhenti untuk isi perut dulu.....disebuah warteg, tim bromo adventure SIMC (Samudera Indonesia Motor Community) yang terdiri dari tiga orang yaitu saya sendiri, bro UJ dan bro Kholik merapat dan memarkir rapi motornya (1 skywave, 1 kharisma dan 1 scorpio).

Kami lapar dan butuh istirahat, tidak terasa sudah 5 jam kami diatas motor sejak start pukul 21.00 di MC D Kalimalang, dan boleh dibilang tanpa istirahat, hanya berhenti untuk isi bensin saja. Hari pertama dari rencana empat hari perjalanan ini memang harus tempuh secara marathon, supaya pada hari kedua kami sudah bisa exploring bromo.

Sedangkan hari ke tiga dan keempat sudah bisa dalam perjalanan pulang, sengaja waktu perjalanan pulang kita sediakan waktu lebih lama, mengingat pada saat pulang kami sudah lelah sehingga akan lebih lambat bergerak, selain itu juga antisipasi jika ada keterlambatan ditahapan2 awal kami masih punya spare time.

tim SIMC bromo adventure @ starting point

Jalan malam hari sangat membantu kecepatan kami bergerak, semua aktivitas siang hari di jalan raya sudah tidak ada sehingga bisa dibilang jalanan sepi tanpa hambatan, kecuali lubang-lubang di jalanan pantura yang sering kali memaksa kita untuk mengerem mendadak ataupun, meliuk-liuk menghindarinya. Tapi sejago-jagonya menghindar pasti ada juga lubang yang menghantam roda motor kami.

Shockbreaker motor bro Kholik menjadi korban kejamnya lubang jalur pantura, Shock kiri belakang motor kharisma nya sampai patah - ini kami ketahui setelah pagi hari menjelang pukul enam saat kami melaju di Alas Roban. Untungnya masih bisa di kendarai sampai semarang.

menara masjid Al Faris - Batang

Pukul 07.00 pagi hari kami tiba di Semarang, langsung menuju kantor Samudera Perdana - Semarang (SP- Semarang), kebetulan bro Kholik pernah melatih security di SP ini sehingga masih banyak teman2 yg dia kenal.

Di kantor SP ini motor bro kholik diperbaiki, sementara itu kami mencoba istirahat rencananya jam 10 kami akan lanjutkan perjalanan.

Menjelang jam 10.00 kami bangun dan ketemu bro Wahyu - Finance Manajer SP, dulu mantan staff di Divisi Treasury Samudera Indonesia...setelah ngobrol2 bro Wahyu nawarin makan khas semarang yaitu Iwak Manuk, atau daging burung belibis di goreng dengan sambel yang maknyus, kebetulan restonya tidak jauh dari Kantor SP ini. (Ditawarin makan siapa takut - apalagi emang udah laper)

Jadilah kami brunch (breakfast-Lunch) ditraktir oleh bro Wahyu...wah makanannya mantap deh....(ini aja kebayang sambelnya yang pedes dan gurihnya daging burung belibis goreng yg gurih..glk nelen air liur deh)....

Iwak Manuk Resto, Goreng belibis dan sambel maknyus

Akhirnya baru jam 11.30 kami start kembali dari kantor SP, kali ini kami menuju ke selatan kearah solo melalui boyolali, dengan tujuan akhir adalah Tulung Agung, rumah kediaman Bro Kholik....

Perjalanan menuju Tulung Agung ini kami lalui dalam kondisi basah, pasalnya selepas Wonogiri kami dihajar hujan terus menerus, namun demikian tidak mengurangi semangat kami untuk melibas track yang penuh dengan kelokan ini. Maklum jalur ini ada didaerah selatan jawa yang berbukit-bukit.

Tepat pukul 19.00 di iringi hujan yang masih rintik-rintik kami merapat di kediaman bro Kholik dan disambut oleh sanak saudara serta ponakan2 dari bro kholik. Alhamdulillah kami telah menempuh 725km dengan selamat dan marathon....

Kami bersih2 disini dan istirahat untuk persiapan summit attack bromo.....

Rencana kami akan berangkat jam 24.00....



Tulung Agung 13 Mei 2010 pukul 23.00.....

Udara dingin membangunkan diri saya yang tertidur di beranda mushola keluarga bro Kholik, uuuhhh lumayan juga bisa terlelap 2 - 3 jam, setelah makan malam tadi sekitar jam 20.30 saya memang pamit ke mushola untuk sholat Magrib dan Isya; tapi setelah sholat melihat lantai beranda mushola yang luas dan bersih, jadi tergoda untuk merebahkan badan...dan slllep langsung tertidur....hehehe

Saya bangunkan bro Uj yang rupanya nyusul tidur di mushola juga, untuk bersiap-siap menuju Bromo.

Rute yang akan kami tempuh adalah Tulung Agung - Blitar - Kepanjen - Malang - Tumpang - Ngadas - Ranupane/Bromo sekitar 160km.

Kali ini rombongan bertambah menjadi 6 orang karena adik dari Bro Kholik dan dua keponakannya akan ikut serta, rombongan menjadi (1 scorpio, 1 vixion, 1GL max, 1 Kharisma dan 2 skywave).

Menjelang pukul 24.00 tim bergerak meninggalkan Tulung Agung - menuju ke Malang untuk selanjutnya ke Tumpang dan Ngadas. Untunglah dini hari ini cuaca cerah tidak hujan seperti sore dan malam tadi.

Kami membelah pekatnya malam, menembus dingin udara dini hari, jalanan sepi hanya deru motor kami yang memecah hening, lampunya menyorot ke aspal hitam membantu kami mengarahkan ke tujuan.....perjalanan sangat lancar.

Sekitar pukul 02.00 kami sudah tiba di kota Malang yang masih menyisakan sedikit kehidupan malam nya, kami mencari jalan menuju Tumpang, setelah sempat tanya-tanya kami temukan jalan tersebut.

antara tumpang dan ngadas....nunggu kopling dingin ditengah hutan

Kini jalanan mulai mendaki, bahkan ada tanjakan yang sangat panjang mendaki terus mendaki....untungnya jalannya masih aspal jadi masih enak dilibas.

Sampai kita disuatu perempatan dimana tertulis Gn Bromo lurus, kami mengikuti jalan ini, jalannya semakin kecil sampai akhirnya keluar dari pedesaan dan mulai memasuki jalan dimana kiri kanannya hutan atau mungkin kebun, tidak jelas karena gelap dan harus konsen memperhatikan jalan yang semakin rusak.

Semakin jauh kami masuk semakin rusak jalanannya, dan mulai berkelok-kelok menanjak, saya berada di posisi paling belakang saat itu, tidak bisa bergerak cepat karena harus menyesuaikan dengan motor didepan. Bro UJ memimpin rombongan paling depan.

Semakin tinggi kami mendaki semakin dingin suhu udaranya, kiri kanan kami hanya kegelapan dan gerumbul-gerumbul siluet pepohonan, tidak lama kemudian kami meliwati Gapura selamat datang di Taman Nasional Bromo-Tengger-Semeru.

Tanjakan2nya semakin menggila, menyebabkan motor matic saya mengalami selip kopling karena koplingnya terlalu panas walaupun di gas motor tidak mau menanjak, jalanan yg rusak menyebabkan kami tidak mungkin mendapatkan ancang2 untuk menanjak, akibatnya motor matic saya seperti main setengah kopling.

Desa Ranu Pani di pagi hari

Akhirnya saya putuskan berhenti kalo saya paksakan juga akan makin fatal, masalahnya karena saya paling belakang sementara teman2 sudah menghilang di balik tikungan, maka saya jadi sendirian berhenti....waah kacau nih ditinggal sendirian. Untung ada HT, saya masih bisa kontak bro UJ untuk berhenti karena saya ada trouble.

Akhirnya mereka datang, tapi pas lampu motor dimatikan....peet gelap total sekeliling kami, hanya suara desau angin, kami berada di atas perbukitan on the way ke desa Ngadas, dinginnya minta ampun...;.dengan bantuan senter saya lihat jam menunjukan 03.30.

Saya bilang ke teman-teman saya perlu dinginin motor dulu biar koplingnya bisa bekerja normal kembali. sebetulnya was-was juga saya melihat kondisi skywave saya ini, hal ini mengingatkan saya kejadian serupa dengan scorpio saya ketika off road ke Cariu, kopling habis dan motor tdk bisa jalan kami baru bisa keluar dari tengah hutan jam 02.00 setelah dapat pertolongan penduduk lokal.

Untunglah hal tersebut tidak terjadi dengan skywave saya, setelah setengah jam berhenti saya coba jalankan lagi motor saya dan ternyat bisa jalan; kini saya minta posisi paling di depan sehingga bisa punya ancang2 untuk nanjak, serta jika terjadi troubel saya tidak ditinggal sendirian hehehehe.

Sayapun memimpin didepan, motor langsung saya tancap gas, motor saya terguncang-guncang hebat melibas jalanan rusak dan menanjak, tapi saya tidak peduli sepanjang dia masih terus bisa memanjat tanjakan2 terjal ini libas terus.

Ranu Pani di pagi hari

Desa Ngadas yang masih terlelap dalam balutan dinginnya malam kami lewati, kami mengarah ke jemplang. Tiba di pertigaan Jemplang maka jika ke kiri akan menuju lautan pasir sedang jika lurus menanjak akan menuju ke Ranu Pane, karena masih terlalu gelap kami tidak turun ke lautan pasir, tapi menuju ke Ranu Pane....hiks jalanan menanjak lagi....motorku kembali selip kopling, terpaksa deh berhenti dulu setengah jam lagi.....

Kemudian saya mencoba lagi menanjak dan akhirnya menjelang Ranu Pane jalanan menurun....fuuhh aman setidaknya sampai di Ranu Pane

Ranu Pani

Kami tiba di Ranu Pane jam 05.00, dengan badan yang kedinginan, suhu di termometer motor saya menunjukan 12 drajat celcius. Sampai di Ranu Pane bingung mau ngapain, desa masih lelap, mau cari tempat duduk semisal warung kopi atau apalah tempat yang nyaman tidak ada..... cari masjid kelihatan kubahnya tapi gak tau jalan masuknya karena berada dibelakang perumahan penduduk.....hehehe

Barulah jam 5.30 ada penduduk yg bisa ditanya, arah ke mesjid tsb, kamipun sholat subuh disana.

Selanjutnya kamipun ke Ranu Pane (Ranu=Danau) sebuah danau yang merupakan salah satu pos lapor sebelum pendakian ke Gunung Semeru. Jalan yang ke Ranu Pane ini jika diteruskan akan tembus ke Senduro dan Lumajang.

Kami mengambil beberapa foto kemudian kami melanjutkan perjalanan ke Lautan Pasir yang berarti kembali ke Arah pertigaan Jemplang - hiks nanjak lagi. (bersambung)


Blog EntryMar 16, '10 12:07 AM
for everyone

Sabtu, 27 Februari 2010....

“Kita mau kemana ini?”…..suara dari walkie talkie yang dipegang Alin berbunyi, sesaat setelah mobil saya belokan keluar dari jalur utama dan mulai memasuki jalan perkebunan teh yang jelek dan sempit – hari sudah sore dan cuaca hujan rintik-rintik, udara dingin pegunungan menyusup masuk dari jendela mobil yang memang saya biarkan terbuka sedikit. Sore itu, dengan tiga mobil beriringan kami tengah dalam turing keluarga mengeksplorasi daerah Pangalengan – Bandung Selatan, Jawa Barat. 

“Kita mau ke Cibolang” jawab Alin setelah bertanya dulu kepada saya, sebenernya kita mau kemana?

“Ada apaan disana…?” suara tanya lagi dari walky talkie yang berada di mobil Teguh

“Pemandian air panas….” Jawab Alin lagi-lagi setelah tanya dulu kepada saya.

“Emangnya ada? jangan-jangan nanti air panasnya – orang lagi masak air” suara dari walkie talky menyahuti sambil becanda.

Saya tersenyum  menanggapi candaan tersebut, memang terbersit juga rasa ragu di hati saya, pemandian seperti apa yang ada di tengah-tengah perkebunan teh seperti ini? pikir saya.

Saya memang belum pernah menjelajahi daerah Pangalengan ini – padahal mereka mengandalkan saya sebagai tour guide dalam turing keluarga ini hehehe maklumlah saya yang paling sering jalan mbulusuk-mbulusuk daerah pedalaman jawa barat.

Namun pemandangan indah yang disuguhkan alam Pangalengan ini benar-benar membius mata membuat saya tidak terlalu peduli dengan keraguan hati saya – seandainya tidak ketemu pemandian tsb ataupun jika ternyata pemandian tersebut tidak sebaik yang kami harapkan, toh kami sudah bisa menikmati pemandangan seindah ini dan bisa menyelusup masuk perkebunan teh ini  sudah merupakan pengalaman yang tidak terlupakan….

Seperti kemarin sore ketika  kami menikmati keindahan kawah putih di Ciwidey semua anggota rombongan merasa puas dan terpesona dengan kecantikan dan keasrian pemandangan di kawah putih ini; dan bagi saya yang menjadi tour guide ini merupakan kepuasan tersendiri.

Tadi pagi kami menikmati keindahan Situ Patengan – sayang hujan lebat yang turun membatalkan kunjungan kami ke Ranca Upas sehingga kami putuskan untuk bergerak ke Pangalengan dalam cuaca hujan, dan setelah menikmati santap siang sop buntut istimewa di rumah makan Asti, plus tidak lupa tentunya minum susu segar hangat yang merupakan salah satu minuman  khas di Pangalengan ini (karena pangalengan terkenal dengan produksi susu segarnya), saya sendiri lebih memilih Bandrek susu, kami mencoba untuk mengeksplore Pangalengan.

Karena saya juga baru pertama kali ke Pangalengan maka saya juga tidak terlalu tau dengan pasti mau dibawa kemana rombongan ini hehehe, sempet muter-muter di perkebunan teh Malabar dan sempet liat penunjuk arah bertuliskan makam Boscha, tapi karena cuaca yang masih hujan rintik-rintik kami tidak turun untuk jalan kaki kesana,  dan kini akhirnya disinilah kami berada diantara perkebunan teh menuju ke Cibolang.

Kami terus menyelusup memasuki jalan perkebunan teh yang  dimiliki oleh PT Perkebunan Negara VIII (PTPN VIII), mobil kami terguncang-guncang oleh lubang-lubang jalanan dan sesekali menyeberangi genangan air hujan. Didepan kami tampak kaki gunung entah gunung apa namanya saya tidak tahu pasti – yang jelas disisi kiri gunung tersebut dari kejauhan tampak instalasi panas bumi Wayang Windu (yang ini saya tau karena nanya orang) dengan uap putihnya yang tebal membumbung tinggi kelangit yang saat itu berwarna kelabu karena mendung. DiKaki gunung ini juga tampak garis-garis pipa besar berwarna keperakan yang sangat kontras dengan latar belakang kaki gunung yang hijau tertutup perdu teh maupun pepohonan lainnya. Pipa tersebut nampaknya untuk mengalirkan entah uap panas atau gas ke atau dari instalasi panas bumi.

Beberapa kali saya terpaksa bertanya kepada orang untuk meyakinkan arah ke cibolang ini, maklum makin masuk ke dalam perkebunan suasananya makin sepi dan jalannya pun tidak meyakinkan bahwa itu menuju daerah wisata.

Sampai akhirnya kami melihat ada jalan yang menyimpang ke kiri menuju sebuah gerbang dengan tulisan pemandian air panas tirta camellia – cibolang, langsung saja mobil saya arahkan ke bangunan tersebut.

Ditempat parkir saya liat 2 – 3 mobil dan beberapa sepeda motor sedang parker, dari tempat parkiran ini saya juga bisa melihat ada dua buah kolam renang, kemudian bangunan semacam kantin yang terlihat tidak terawat dengan baik dan di ujung dekat kolam renang terlihat bangunan dengan beberapa pintu yang ternyata ruang berendam – tadinya saya pikir kamar ganti atau toilet.

Secara umum suasananya saat itu tidak terlalu ramai entah karena kami datang sudah sore, sekitar 15.30 atau memang suasananya sehari-hari memang seperti ini?

Saya menunggu pendapat rombongan apakah OK dengan kondisi pemandian ini? Soalnya adik-adik saya ini sangat concern terhadap kenyamanan dan kebersihan tempat wisatanya mengingat mereka membawa anak-anaknya yang masih kecil-kecil.

Setelah melihat bahwa kolamnya bersih walaupun tidak terlalu luas, akhirnya disepakati untuk menghabiskan waktu disitu, apalagi anak-anak sudah tidak sabar ingin berenang – sayangnya sarana ganti pakaiannya sangat tidak memadai diruang toilet yang gelap karena tidak ada lampunya, namun demikian tidak mengurangi kegembiraan  anak-anak untuk berenang.

Bapak-bapaknya pun juga tidak ketinggalan ingin berendam, soalnya memang nikmat bisa berendam di kolam air hangat ditengah perkebunan teh yang sejuk apalagi tubuh ini sudah cukup penat menyetir seharian…..terapi berendam air hangat ini mampu membuat tubuh fresh kembali…..

Apalagi cuaca yang tadinya gerimis kini berangsur cerah, sehingga udara terasa begitu sejuk dan bersih nikmat sekali untuk berendam di kolam air hangat ini.

Alya, Mira dan Faris yang biasanya nggak suka berenang sekarang sudah asyiik bermain air bersama, sementara Qatri masih asiik berenang sama ayahnya. Alin dan Arif juga asiik berenang, Tanto yang tadinya tidak ingin berenang dengan alasan tidak bawa celana ganti lagi akhirnya berenang juga. Hanya Fina dan ibu-ibunya saja yang nggak berenang…..

Belakangan saya baru tahu ternyata ada dua buah pemandian air hangat di Cibolang ini, satu milik perkebunan (PTPN) ini yang saya kunjungi dan satunya milik PT. Perhutani lokasinya masih disebelah atas lagi dari tempat kami ini. (wah kapan-kapan perlu tau juga tuh pemandian yang satunya)

Sementara kami dan anak-anak berenang, Susan isterinya Teguh sibuk booking hotel, memang yang untuk Pangalengan ini kami tidak booking hotel dari awal seperti ketika kami kemarin ke Ciwidey – soalnya memang rencana eksploring Pangalengan ini saya masukan dalam optional item – tergantung cuaca, dan waktu yang tersedia-  tujuan utamanya adalah Ciwidey dan sekitarnya.

Segarnya berendam di kolam air hangat di alam terbuka di kaki gunung yang sejuk dan ditengah pemandangan kebun teh membuat kami lupa waktu, tidak terasa sudah pukul 17.15 – kami harus bergegas mentas nih supaya tidak terlalu malam dijalan.

Menjelang jam 17.45 kami sudah berada di mobil kami masing-masing, dan selanjutnya bergerak kembali menyusuri jalanan perkebunan untuk kemudian masuk ke jalan utama mengarah ke Pangalengan.

Cuaca yang cerah membuat kami bisa menikmat senja yang indah di perkebunan teh ini, Matahari yang kini mulai memasuki horizon menyemburatkan warna jingga di langit sekitar tempatnya berada. Sisa cahayanya membuat siluet-sluet tegas dari pepohonan yang berdiri tegak di tengah-tengah perdu teh yang datar. Indah sekali, kami sampai terpaksa berhenti dipinggir jalan untuk mengabadikan dan menikmati proses masuknya sang matahari ke peraduannya. Siangpun berganti malam.

Dalam suasana malam perkebunan kami lanjutkan ke Pangalengan, sengaja kami tidak langsung ke hotel tapi mencari makan dulu mengingat perut sudah perlu di isi, apalagi udara dingin menyebabkan kami lebih cepat lapar.

Setelah menikmati santap malam sate ayam dan kambing yang maknyuss kami pun menuju hotel tidak lama setelah pembagian kamar dan menurunkan barang-barang, masing masing keluarga masuk kamarnya untuk beristirahat dan membawa kesan perjalanan hari ini dalam tidurnya masing-masing……zzz…zzz…zzz.


Blog EntryMar 14, '10 12:45 AM
for everyone


Slluuurrppp.......ahhhhh, saya seruput teh manis panas yang terhidang di meja makan tersebut....sisa rasa daun tehnya masih tersisa di lidah saya......hhmmm nikmatnya teh hitam Cukul. Rasa teh yang tertinggal di lidah tersebut membawa lamunan saya kembali ke perjalanan kami mendapatkan teh tersebut.

Kami tengah dalam perjalanan turing keluarga saat itu, Minggu pagi 28 Februari 2010 dengan tiga mobil kami menyusuri jalanan Pangalengan – Cukul – Cisewu – Ranca Buaya, sebelumnya kami sempat mampir di situ Cileunca. Menikmati pemandangan situ tersebut dan mengambil foto-foto untuk koleksi album kami. Dibandingkan situ Patengan yang kami kunjungi pada hari Sabtu sebelumnya situ Cileunca ini tampaknya tidak sepopuler situ Patengan, pengunjungnya lebih sedikit dan fasilitas yang ada disana tampak kurang terawatt padahal situ ini cukup indah juga lho – ada bagusnya juga sih jadi lebih sepi dan bisa lebih menikmati pemandangannya.

Selesai menikmati keindahan situ Cileunca kami segera bergerak melanjutkan perjalanan menuju pantai Ranca Buaya melalui Cukul dan Cisewu – dengan yang sekarang ini maka saya telah melewati rute ini sebanyak tiga kali, yang dua sebelumnya saya melintas pada malam hari dan satu lagi pada siang hari saat kabut pekat turun menyelimuti perkebunan teh Cukul dan keduanya saya datang dari arah Ranca Buaya sehingga berada di sisi dinding bukit.

Namun Kali ini saya melintasi kawasan ini dipagi hari yang cerah dan indah, sehingga benar-benar kami bisa menikmati moleknya pemandangan yang ada di perkebunan teh Cukul - yang terhampar didaerah perbukitan dan meliputi area seluas 1200 hektar. Dan kami bisa merasakan ngerinya melipir jalanan disisi jurang-jurang yang dalam....... apalagi di beberapa tempat sebagian bahu jalan ini terlihat longsor.....Beberapa kali rasa semriwing muncul saat menekuk tikungan-tikungan tajam dipinggir jurang….seandainya tidak berhasil menekuk tikungan tsb hiiiii serem.
Rombongan kami terus melipir jalanan dipinggang bukit ini sampai tiba di suatu tempat 28 kilometer sebelum Cisewu dimana jalanan ditutup tidak bisa dilalui, karena tertutup longsor - semua kendaraan ke cisewu hanya bisa sampai disitu saja….


Rencana kunjungan ke Ranca Buaya pun terpaksa dibatalkan…..Ada rasa kecewa, tapi tidak mengapa juga sih toh masih bisa disimpan untuk tujuan turing keluarga berikutnya dan yang terpenting penyebab batalnya ke Ranca Buaya karena Act of God…..tanah longsor bukan karena kemauan kita.

Rombongan pun berputar balik kembali ke arah Cukul, menjelang tiba di cukul Een adik saya usul untuk mampir mengunjungi pabrik teh Cukul, ok bisa di coba juga tuh walaupun belum tau apakah diperbolehkan atau tidak oleh pihak pabrik.

Akhirnya kami tiba di pabrik teh hitam Cukul, yang terletak tepat di sebuah tikungan. Kami sampaikan maksud kami kepada satpam pabrik dan diluar dugaan; kami diterima dengan tangan terbuka. Bahkan pak Irawan (kalo tidak salah demikian namanya) dan seorang temannya (lupa namanya siapa) dari pabrik bersedia menjadi tour guide kami selama factory visit ini.

Kami dijelaskan tahapan-tahapan pembuatan teh, banyak info baru yang kami peroleh misalnya ternyata teh hitam maupun teh hijau berasal dari daun teh yang sama, yang menyebabkan menjadi teh hijau atau teh hitam adalah proses pembuatannya.














Pabrik teh Cukul ini khusus mengolah teh hitam, dan pabrik ini tergabung dalam group teh Sosro (Rekso Group) yang produk terkenalnya adalah teh botol sosro.

Walaupun gedung pabriknya terlihat tua (kalo tidak salah berdiri tahun 50an, justru ini yang membuat terlihat antik dan menarik), namun terlihat bahwa manajemen pabrik dilakukan secara modern dan concern terhadap mutu (quality).

Tahukah anda ternyata para pemetik teh setiap harinya total bisa memetik sampai 15 ton daun teh segar, dan jumlah itulah yang diolah oleh pabrik teh Cukul ini setiap harinya…..


Kami juga melihat ruang tester teh dimana bercangkir-cangkir teh yang merupakan sampal dari masing-masing batch yang diproduksi di cicipi untuk menentukan qualitas dan grade nya.










Menjelang jam 11.00 kami akhiri kunjungan kami ke pabrik teh hitam Cukul ini, dan kami ternyata diberi oleh-oleh tiga kantong teh hitam produksi Pabrik teh hitam Cukul ini……wah senang sekali, benar-benar luar biasa penerimaan mereka terhadap kunjungan kami ini……pastinya ini cerminan dari manajemen yang baik…..

Sllurrrp…..ahhh aku teguk lagi teh hitam yang tersisa di cangkir…..hmm nikmatnya. tegukan yang juga mengakhiri kenanganku atas perjalanan kami ke pabrik teh hitam Cukul yang menyenangkan…..



Blog EntryMar 6, '10 9:12 AM
for everyone

Jauh sebelum saya menjadi biker yang gemar turing jarak jauh saya lebih sering travelling  dengan menggunakan mobil.

Alhamdulillah tidak terasa sudah banyak juga tempat yang saya kunjungi bersa

ma keluarga dengan bermobil.

Ketika saya masih dinas di Medan (1995 – 1997) saya berkesempatan keliling Aceh, berangkat melalui pantai timur(Medan – Lhokseumawe – Banda Aceh) dan pulangnya lewat pantai barat (Banda Aceh – Meulaboh - Tapak Tuan – Kaban Jahe – Medan), semuanya saya menyetir sendiri.

Beberapa tempat lain yang saya pernah kunjungi dengan bermobil bersama keluarga dan menyetir sendiri antara lain adalah;  Bali, Palembang, Bromo, Yogya dan lain-lain.

Bapak sayalah yang mengajari saya mengemudikan mobil dan menularkan kegemaran travelling keluarga dengan mobil

Dimata saya Beliau adalah pengemudi yang handal, tahan menyetir jarak jauh, sopan dan santun di jalan dan mengutamakan keselamatan.

Bapak pernah mengajak kami ke Surabaya, Jember, keliling Madura, ke Yogya …..semuanya beliau yang menyetir sendiri – saat itu anak-anaknya belum ada yg bisa menyetir. Barulah k

etika  kami pergi ke Bali (sekitar 1982) Bapak bisa agak berisitirahat, karena saat itu saya dan mas Anang sudah bisa menyetir mobil.

Bapak sangat strict soal aturan usia untuk mengemudi mobil, jadi kalo belum 17 th. Sudah pasti tidak akan diperbolehkan menyetir mobil. Sebaliknya ketika usia s

aya 16 tahun Beliau menyuruh saya untuk membuat SIM C untuk mengendari motor, saat itu batas usia untuk memperoleh SIM C adalah 16 th (nggak tau deh kalo aturan sekarang berapa batas usianya).

Bapak menyuruh saya untuk membuat surat keterangan dari kelurahan bahwa usia saya 16 tahun, Beliau juga mengantar saya ke Polda (dulu KOMDAK) untuk mendaftar ujian SIM, ketika petugas pendaftar menolak berkas pendaftaran saya – dengan alasan saya belum mempunyai KTP; Bapak maju mempertanyakan

mana aturan yang mensyaratkan harus punya KTP baru boleh bikin SIM C wong syaratnya berusia 16 tahun – si petugas gak bisa berkutik akhirnya saya diperbolehkan ikut ujian teori dan besoknya ikut ujian praktek, dapet deh SIM C untuk naik motor.

Entah Bapak belajar darimana semua yang diajarkan kepada saya merupakan teknik mengemudi yang baik dan aman. Bapak mengajarkan teknik menyusul yang aman, tidak memaksakan diri dalam menyusul, tidak menyusul di jembatan, tidak menyusul di tikungan. Membunyikan klakson di tikungan-tikungan tajam untuk memberi tahu kendaraan dari arah berlawanan akan keberadaan kita.

Beliau juga mengajarkan cara mengemudikan yang aman di malam hari, mengajari tentang isyarat2 lampu, juga mengajarkan etika berkendara seperti tidak berjalan lambat di jalur kanan, memprioritaskan kendaraan yang

sedang menanjak dan masih banyak lagi.

Semua etika2 tsb  saat ini seringkali tidak diindahkan lagi oleh banyak pengemudi; seperti menjalankan mobil berlambat-lambat di jalur kanan, jika diklakson malah marah2, atau tidak memberi prioritas kendaraan yang sedang menanjak – yang ada siapa yang lebih berani dia yg menguasai jalan. Atau saat hujan menyalakan lampu Hazard (kedua sein nyala berkedip-kedip) padahal mobil yg bersangkutan tidak sedang berhenti – mereka tidak mengerti lampu hazard hanya digunakan untuk mobil yang sedang b

erhenti/mogok.

Namun demikian Bapak saya jugalah seorang manusia biasa, suatu saat juga bisa meledak emosinya – namun karena emosinya yang meledak inilah saya jadi bisa berkesempatan melihat salah satu aksi ketrampilan Beliau mengemudikan mobil.

Ceritanya saat itu sedang pemilu di masa orba dulu, waktu itu cuma ada tiga partai politik peserta pemilu, Hari itu sedang kampanye dari salah satu parpol; mereka konvoi menggunakan belasan (mungkin puluhan malah) truk terbuka dan bis menuju lokasi kampanye di Senayan.

Saat itu kami melaju dijalan Thamrin menuju rumah di Kebayoran, melihat ada konvoi tersebut, Bapak mengambil jalur kiri membiarkan konvoi kampanye tersebut lewat dengan lancar dijalur tengah – namun tiba-tiba peserta kampanye dari salah satu truk terbelakang melempari mobil kami dengan batu.

 

Tidak terima dengan perlakuan tersebut Bapak kemudian ngebut menyalip dan memotong satu persatu kendaraan yang sedang konvoi  secara zig zag diantara kendaraan peserta konvoi..….. mobil Peugeot 404 th 63 kami pun meliuk-liuk mengikuti putaran kemudi Bapak…kereeeen bo. (jangan-jangan Bapak saya jago drifting juga kali ya….hehehe)

Terima kasih Bapak atas semua didikan yang telah diberikan, saya tidak bisa membalas budi baik Bapak…..hanya doa yang dapat saya panjatkan kepada Allah untuk Bapak.

Nah siapa guru mengemudi anda…?

***) ditulis untuk mengenang Almarhum Bapakku : Drs Imam Saroso


Blog EntryFeb 24, '10 10:30 PM
for everyone
Beberapa waktu yang lalu ada postingan di salah satu milis komunitas biker yang saya ikuti, yang menanyakan bagaimana  cara memutar yang baik, Namun karena kesibukan saya menyebabkan saya  tidak sempat mengikuti topik tersebut sehingga tidak tahu bahasan teman2.

Menurut saya cara memutar yang baik adalah sebagai berikut dibawah ini, mohon di ingat ini adalah pendapat pribadi saya berdasarkan pengalaman  selama ini. Apabila ada saran memutar yang lebih baik yang dikeluarkan dari sumber yang kompeten, maka silahkan ikuti saran tersebut.

Dalam memutar ada tiga hal utama yang harus diperhatikan.

  1. Tempat Memutar
  2. Proses/prosedur Memutar
  3. Mengutamakan keselamatan baik diri sendiri maupun orang lain.

1.       Tempat Memutar

a.       Jalan yang memiliki pemisah jalur

  • 1.      Jika jalanan memiliki  pembatas jalan, maka berputarlah di tempat putaran yang memang disediakan untuk kita (ada rambu tanda berputar – U Turn).

    2.      Jangan berputar ditempat putaran yang diperuntukan  kendaraan dari arah berlawanan, ataupun yang terdapat rambu dilarang berputar (U Turn – dicoret)

    3.       Jangan berputar di ujung lampu pengatur lalu lintas (traffic light), kecuali jika ada rambu diperbolehkan memutar ditempat tersebut.

    4.    Jangan sekali-kali menggunakan jembatan penyeberangan untuk berputar, jalur tanjakan yang disediakan dijembatan penyerberangan adalah untuk gerobak pedagang, bukan untuk sepeda motor. Jembatan penyeberangan adalah untuk pejalan kaki bukan untuk sepeda motor, jika anda menggunakan jembatan penyeberangan untuk memutar, selain melanggar aturan lalu lintas, anda jelas adalah biker kampungan

 b.      Jalan yang tidak memiliki pemisah jalur

  • 1.      Jika jalanan tidak memiliki pemisah jalur maka carilah tempat yang cukup lebar untuk memutar dan jalur yang lurus serta datar.

    2.       Jangan memutar di tanjakan/turunan  yang terjal (ada kemungkinan anda tidak terlihat oleh pengendara lain, selain itu kemiringan jalan bisa mengganggu keseimbangan motor)

    3.       Jangan memutar di jalanan yang menikung  - posisi anda mungkin tidak terlihat oleh pengendara lain yang akan masuk ke tikungan tersebut.

    4.       Jika situasi lalulintas ramai tunggu sampai situasi cukup aman untuk berputar, selama menunggu jika perlu berhent dulu di sisi kiri jalan.


2.       Prosedur memutar

  • 1.       Nyalakan lampu sein setidaknya 50  m sebelum U Turn

    2.       Lihat spion untuk mengetahui posisi kendaraan2 dibelakang kita

    3.       Saat berpindah dari jalur kiri ke kanan jangan memotong jalan terlalu tajam

    4.       Jika kendaraan dari belakang cukup ramai jangan paksakan diri untuk memotong

    5.       Jika sudah berada diputaran, perhatikan arus dari arah berlawanan, tunggu sampai situasinya memungkinkan anda untuk keluar dari putaran. Memaksakan diri langsung keluar dari putaran bisa membahayakan diri anda dan pengguna jalan lainnya.

    6.       Keluar dari putaran jangan langsung memotong arus

    7.      Berpindahlah dari jalur kanan ke kiri dengan menyalakan sein dan memperhatikan arus kendaraan dari belakang anda.

 

3.       Utamakan keselamatan.

Utamakan keselamatan adalah hal terpenting dalam kita mengendarai kendaraan (baik motor maupun mobil).  Kedua poin diatas (tempat memutar dan proses memutar) semuanya dimaksudkan agar kita selamat, jadi jangan ragu untuk maju mungkin 100 – 200 meter kedepan untuk mencari tempat berputar yang aman, daripada anda memaksakan diri berputar ditempat yang membahayakan.

 

OK Bro and Sis…selamat berputar dan tetap utamakan keselamatan……..



Blog EntryFeb 23, '10 1:17 AM
for everyone
“Kriiiiiiiiiiiiiiiingg…” sebuah jam beker tampak berdering panjang dan nyaring diatas sebuah meja. Tiba-tiba braak! Sebuah tongkat bisbol (baseball) menghantam si jam beker tanpa ampun, jam bekerpun jatuh dan hancur berantakan.

Kemudian tampak seorang gadis cantik - si pemegang tongkat bisbol, sedang ber hahaha-hihihi dengan seseorang melalui hand phone nya.

Sesaat kemudian tiba-tiba si jam beker yang sudah hancur ini berdering kembali, si gadis cantik tampak kesal dan dengan bengis (lihat mimik mukanya) menghantamkan kembali tongkat bisbol ke jam beker tersebut………

Diatas tadi adalah adegan sebuah klip iklan sebuah operator telepon selular, iklan ini begitu seringnya ditayangkan di layar kaca televisi di rumah anda akhir-akhir ini.

Mungkin anda sering melihatnya, juga mungkin anak-anak anda…….dan kita tidak tahu apa yang ada di benak anak anda ketika melihat adegan tsb.

Terus terang saya tidak suka iklan ini, terlalu mengumbar kekerasan, kemarahan, semangat penghancuran…….

Walaupun jam beker bukan benda hidup, tapi pesan menghancurkan benda itu begitu kental, seakan kita boleh marah dan menghancurkan setiap benda yang mengganggu kesenangan kita.

Menurut saya ini adalah contoh iklan yang tidak pantas, karena mengajarkan kekerasan dan mengumbar kemarahan…… Bayangkan jika cara-cara penghancuran seperti itu di tiru oleh anak-anak kita, mungkin yang dihancurkan mainannya sendiri dengan menggunakan tongkat golf bapaknya….mungkin. Supaya dibelikan mainan yang baru hehehe…..

Jika kita amati iklan-iklan di TV banyak sekali yang tidak pantas sebenarnya karena mengajarkan hal-hal yang buruk terutama kepada anak-anak.

Memang sebuah iklan harus kreatif dan menarik sehingga produk yg di iklan kan tertanam di benak pemirsa, namun pastinya ada cara-cara kreatif lain yang lebih elegan, lebih santun, terhormat dan mendidik dalam mengiklankan suatu produk…..

So, mau menarik?......jangan lebai plis.

Blog EntryFeb 21, '10 11:27 AM
for everyone

 

“Yah, kata tante Susan ayah nyetirnya kenceng juga ya” Demikian kata Alin anakku meneruskan komentar dari adik iparku Susan – saat itu kami sedang berkonvoi tiga mobil dalam perjalanan menuju Garut – Jawa Barat.

 

Mendengar komentar itu saya jadi berpikir, apa bener saya nyetirnya kenceng? menurut saya sendiri saya termasuk slow driver.

 

Dari empat bersaudara yang lelaki dalam keluarga saya, yaitu Mas Anang (alm), Mas Kokok, Saya sendiri dan si bungsu Teguh maka yang tercepat baik dalam mengendarai mobil maupun menunggangi motor adalah almarhum Mas Anang.

 

Mas Anang nggak pernah pelan kalo bawa mobil, gaya mengemudinya kenceng dan berani tapi tidak kasar atau ugal2an – sebenernya saya seneng dengan gaya mengemudinya tapi tidak demikian dengan Bapak, dia tidak terlalu cocok dengan gaya mengemudi Mas Anang.

 

Makanya kalo pergi liburan keluarga bersama Bapak, beliau lebih suka saya yang mengemudikan mobil, mungkin karena saya belajar mobil langsung dari didikan Bapak, maka sebagian gaya mengemudi Bapak menurun ke saya. Mas Anang dan Mas Kokok seingat saya belajar mengemudi sendiri, ini karena mas Anang lama tinggal di Yogya (kuliah) sedangkan mas Kokok lama dinas di Ambon.

 

Teguh sendiri sebenarnya pengemudi yang baik dan setahu saya juga diajari menyetir oleh Bapak, sayang kecelakaan hebat di Pantura tampaknya meninggalkan trauma yang dalam, sehingga kelihatannya sekarang jadi kurang pede untuk menyetir jarak jauh.

 

Mas Anang jugalah yang mengajari saya pertama kali bawa motor di jalanan luar kota, tepatnya dari Yogya ke Kaliurang. Saat itu saya masih kelas 3 smp saya dikasih kepercayaan untuk mengendarai Yamaha DT 100 (motor trail) sementara dia mbonceng sambil memberi instruksi bagaimana cara mengambil tikungan, memainkan perpindahan gigi di jalanan yang menikung dan menanjak. Bagaimana menggunakan engine brake di jalanan menurun, bagaimana menyusul yang baik dan lain sebagainya.

 

Rasanya itulah pelajaran turing motor saya yang pertama kali.

 

Sayang penyakit jantung yang diderita mas Anang menyebabkan mas Anang harus lebih dahulu meninggalkan kami untuk menghadap Allah SWT pada usia yang relative masih muda (40th). Terima kasih mas Anang atas segala pelajaran riding skill nya.

 

Nah bagaimana dengan keluarga anda? Siapakah yang tercepat dalam keluarga anda……..


Blog EntryFeb 19, '10 1:44 AM
for everyone
Kamis malam 18 Februari 2010, sekitar jam 20 dengan menunggang Mat Item - Yamaha scorpio ku saya tinggalkan halaman kantor yang berada di kawasan Tanjung Priok untuk pulang menuju rumahku di daerah Pasar Minggu.

Gerimis tipis yang saat itu turun tidak begitu saya pedulikan, saya arahkan mat item menyusuri jalan Yos Sudarso, lalulintas malam itu masih ramai namun lumayan lancar.

Di lampu merah perempatan jl Pemuda – Pramuka, lampu lalulintas menyala merah, sayapun berhenti demikian juga dengan motor2 lain, tiba-tiba boncenger di motor sebelah bertanya pada saya.

“Pak, jalan ke Merak lewat mana ya?”

“Heh, ke Merak?” tanya saya balik, seakan tidak percaya, sambil memperhatikan sipenanya yang ternyata seorang perempuan berperawakan agak gemuk.

“Iya pak ke Merak” katanya meyakinkan saya.

“Wah masih jauh dari sini mbak – ya udah ikuti saya dulu deh nanti didepan saya jelasin” kata saya soalnya lampu sudah menyala hijau.

Motor si gemuk inipun mengikuti motor saya membelok ke jalan pramuka. Diujung jalan pramuka kami berhenti si gemuk ini turun sementara ridernya tetep menunggu di motor.

Kini saya lebih bisa memperhatikan lagi sosok perempuan ini, badanya tidak terlalu tinggi ya rata2 tinggi perempuan Indonesia lah, perawakannya agak gemuk usianya mungkin belum 30 tahun, pakaiannya bersahaja, celana jin ¾  tanpa sepatu (pakai sandal), mengenakan jacket anak muda yang ada kupluknya, dan pake helm half face. Jelas perempuan ini bukan anak motor, ataupun anggota klub motor yang sedang turing.

“Memangnya mau ke Merak ya mbak?” tanya saya kembali meyakinkan akan tujuan mereka.

“iya pak” jawab nya.

“Ya udah kamu nanti dari sini lurus aja terus cari jalan yang arah Grogol, terus ke Tangerang”

“Kamu tau Grogol kan?” tanya saya

“Ndak Pak, saya ngak tau, saya baru nyampe dari Blitar” katanya….

“Hah Blitar?... Mas yang itu tau nggak Grogol?” kata saya sambil menunjuk si Rider yang ada diatas motor (saya berpikir si gemuk ini orang Blitar dan diboncengin sama si Rider ini yang orang Jakarta).

“Dia Ndak tau juga pak, dia bareng-bareng saya dari Blitar, dan dia juga perempuan” kata si Gemuk menjelaskan…..(si rider ini pake helm full face makanya saya nggak tau kalo dia perempuan)

“Hah jadi kalian dari Blitar?.....trus tadi darimana?”….tanya saya dan makin kaget

“Iya kami tadi dari Tanjung Priok mau nyari kapal ke Lampung, tapi nggak ada dan disarankan ke Merak aja” katanya menjelaskan…….

Ampun deh dua perempuan ini nekat banget, dari Blitar mau ke Lampung nyari kapal ferry nya di Tanjung Priok…….huehehe dapet info darimana dia – dan sekarang mau menuju ke merak…..luar biasa.

Saya sudah paham duduk perkaranya sekarang……

“Mbak, Merak itu jauh lho masih 120km lagi sekarang jam 20.30 paling cepet si mbak sampe sana jam 12 malem. Gimana berani mbak?” tanya saya menjelaskan.

“Iya berani pak..” jawab si gemuk semangat, optimis dan tanpa keraguan sedikitpun……

Seandainya dia jadi ragu-ragu untuk melanjutkan perjalanan, saya sudah siap menawarkan untuk mampir ke rumah dan istirahat saja dulu dirumah saya, baru besoknya melanjutkan perjalanan.

Tapi karena mereka begitu ingin untuk melanjutkan perjalanan akhirnya saya putuskan untuk memandu dia sampai ke Daan Mogot (gila apa kalo saya biarin jalan sendirian – bisa2 nggak keluar-keluar dari Jakarta mereka), kalo saya lepas di Daan Mogot nanti mereka bisa tinggal lurus saja ke Tangerang dan lanjut ke Merak.

Si gemuk yang tampaknya menjadi leadernya kini mengambil alih stang kemudi, dengan lincah mengikuti saya dan mat item menerobos ramainya lalulintas malam itu.

Kami sempet berhenti dulu untuk mengenakan jas hujan karena gerimisnya kini berubah menjadi hujan (tapi tidak lebat), waktu berhenti ini saya makin yakin mereka bukan anak club motor – saya perhatikan motornya Suzuki Smash (no pol AG4854KB) spionnya hanya ada sebelah kanan,  jas hujan yang dipakai ponco ini pun cuma satu buah….kalo anak club motor yg lagi turing pastinya kelengkapan motor kumplit, plus jas hujan tipe dua pieces bukan ponco.

Pas berhenti pake jas hujan inilah baru saya sempet nanya nama mereka – Si gemuk ini bernama Tata, sementara temannya yang bertubuh langsing dan lebih tinggi ber nama Novi……

Saya tanya kapan mereka berangkat dari Blitar, kemarin malam kata mereka….bawa motornya gantian katanya.

Wah bener2 berani luar biasa dua perempuan ini, saya langsung merasa jadi Biker Cupu didepan mereka, turing2 saya semuanya gak ada apa2nya. Kalo saya kan turing dipersiapkan dengan matang cari info di internet dulu, liat petanya, kalo rutenya belum dikenal pasti aku libas siang hari dlsbnya, Nah mereka ini lebih edan ternyata jalan malem Blitar – Jakarta sendirian pula, terus lanjut jalan malem lagi Jakarta – Lampung. Nggak bawa peta….blom pernah ke Jakarta….bener-bener biker pemberani.

Weeks bandingan dengan anak club motor….jalan rame-rame, bawa peta, bawa gps plus pake rakom (radio komunikasi), ditiap kota yang dituju disambut dan diantar club lokal setempat…hehehe

Saya angkat topi deh buat keberanian mereka, entah keperluan apa yang menyebabkan mereka senekat itu…… saya hanya bisa berdoa semoga Allah memberi kemudahan dan keselamatan kepada mereka.

Di Jalan Daan Mogot, saya kasih briefing terakhir, mereka mengucapkan terima kasih dan langsung lanjutkan perjalanan kamipun berpisah. Saya berputar di putaran pertama yang saya jumpai untuk kembali menuju ke rumah….sambil masih terus berpikir betapa cupunya saya di banding mereka……….

 Salam/imam arkan


Blog EntryFeb 10, '10 1:47 AM
for everyone
Kemarin sore karena badan tidak fit saya pulang on time dari kantor, Alhamdulillah tiba dirumah pas adzan magrib berkumandang, setelah memasukan motor ke halaman rumah saya bergegas ke masjid tanpa sempat berganti pakaian hanya sempat menyambar payung saja....maklum mendung tebal bergelayut dilangit siap menghunjamkan titik air hujan ke bumi.

Dijalan menuju mesjid saya bersua dengan jiran saya seorang Bapak-bapak yang juga akan ke mesjid.

"Asalamualaikum..." ujarnya sambil menyalami tangan saya.
"Waalaikumsalam..." jawab saya sambil menjabat tangannya.
"Udah pulang Mam?..." tanyanya lagi (biasanya saya memang tidak pernah pulang sore, selalu malam)
"Iya pak, ini baru nyampe dari kantor terus langsung mau ke mesjid" kata saya menjelaskan, sambil berjalan di sisinya.
"Iya baguslah, kita ini kan lagi ngumpulin bekal" katanya ringan, "Apalagi disana nanti gak ada yang bisa kita sogok pake duit kita Mam, kalo kita nggak punya amalan, terus bekal apa nanti yang kita bawa coba?" ujarnya lagi setengah bercanda....

Walaupun disampaikan dengan bercanda, namun sangat mengena di hati saya...."Bener juga apa yang dikatakan dia, kita di dunia inikan seharusnya mengumpulkan bekal untuk akherat bukan untuk menumpuk harta dunia, memangnya kita bakalan selamanya hidup didunia? tujuan akhirnya kan akherat, final destination nya akherat bukan dunia....."

Jadi sudahkah kita disela-sela kesibukan kita bekerja memenuhi kebutuhan hidup (untuk yg hidupnya msh pas-pasan) ataupun sibuk untuk menumpuk harta (untuk yg hidupnya sudah mapan), ataupun disela-sela kesibukan kita menuntut ilmu (buat yg masih kuliah, atau belajar) apakah sudah kita upayakan untuk mengumpulkan bekal untuk di akherat kelak.

Jika jawabnya "Belum", maka sebaiknya mulailah dari sekarang.....mumpung masih diberi umur oleh NYA.

Blog EntryFeb 4, '10 5:32 AM
for everyone
Assalamualaikum wr.wb

Dalam Hadis Shahih Muslim terdapat tiga hadis mengenai orang yang tidak dipedulikan Allah, namun disini saya sampaikan dua buah saja

hadis no 83
Dari Abu Dzar r.a , dari Nabi SAW, sabdanya "Ada tiga golongan dimana Allah tidak akan bercakap dengan mereka pada hari kiamat. Mereka itu ialah : (1) Orang yang suka memberi, tapi suka menyebut-nyebut pemberiannya. (2) Orang yang menawar-nawarkan dagangannya dengan sumpah palsu. (3) Orang yang suka berpakaian berjela-jela karena sangat luasnya."

*) berpakaian sampai menyapu tanah untuk menunjukkan dirinya orang kaya atau bangsawan tinggi.

hadis no 84
Dari Abu Hurairah r.a katanya Rasulullah SAW bersabda : "Ada tiga golongan dimana Allah tidak akan bercakap kepada mereka, tidak membersihkan mereka daripada dosa, --Kata Mua'wiyah juga tidak akan menengok kepada mereka bahkan mereka mendapat siksa yang pedih : (1) Orang tua yang pezina, (2) Raja (penguasa) yang pembohong, (3) Si miskin yang sombong.

Dikutip dari kitab terjemah hadis Shahih Muslim jilid I hadis no 83 dan 84.

Mudah-mudahan Allah membantu upaya dan ikhtiar kita agar kita tidak termasuk dalam golongan orang yang tidak dipedulikan Allah di akhirat kelak.

salam/imam arkan

Blog EntryJan 23, '10 11:06 PM
for everyone

Beberapa hari ini di status FB saya selalu menuliskan hari yang telah berlalu, demikian berturut setiap harinya..….seperti hitungan mundur (count down) ke suatu saat yang entah kapan dan apa yang akan terjadi…..
Komen yang masuk seperti ini…..

Alin Adlina
ah, si ayah nih.ky ababil aja :p
gitu komentar anak saya – katanya kayak ababil alias abg labil…… dasar anak muda jaman sekarang masak ayahnya dibilang abg labil…..hehehehe

Dianandari Purnama
Kenapa mas ? Kok diitungin terus ?

Ini komentar adik ipar saya……kalo saya bilang lagi ngitung hari ke tanggal gajian, koq kayaknya becanda amat ya, nungguin hari gajian aja koq dimasukan di status FB hehehe

Suzan Saptono
Mau kemana mas?

Ini juga komentar adik ipar saya yang lain…dia tau banget saya seneng pergi turing….; kalo kali ini saya jawab mau pergi ke alam baqa….. pasti deh kesannya iih serem banget sih, ngomongnya koq kayak gitu…

Padahal buat semua manusia pergi ke alam baqa itu suatu yang pasti (suatu keniscayaan bahasa kerennya) dan nyata tapi entah kapan terjadinya, bisa saja sudah di depan mata atau malah masih lama.
Semua manusia pasti akan ke sana, tetapi tetap saja orang selalu miris kalo diajak membicarakannya.

Sebenernya saya sedang tergila-gila dengan sang Waktu, makanya saya menulis status FB saya seperti itu…..
Sang Waktu yang misterius, ada tapi dianggap tiada .….
Sang Waktu yang dengannya Allah menyatakan setiap manusia adalah dalam kerugian…..

Setelah saya renungkan ternyata semua aspek kehidupan ini adalah fungsi terhadap waktu…
Coba renungkan ini :
- Lahir, Balita, Remaja, Dewasa, Lansia, Mati…..fungsi waktu
- Sholat - Sholat lima waktu
- Visi, Misi, Strategi….. pasti terhadap waktu karena menyangkut cita2/harapan/target dan cara mencapainya yang semuanya direlasikan terhadap waktu
- Produktifitas adalah output yang dihasilkan per satuan waktu....tuh fungsi waktu kan
- Suku Bunga (time value of money), Laba Rugi, Neraca pasti mencantumkan tanggal atau periode nya berarti fungsi waktu juga kan....
- Kecepatan….Kpj=kilometer per jam fungsi waktu kan
- Sejarah, Arkeologi…..ini juga berkaitan dgn waktu masa lampau….
- Vonis hukum….5,4,3 tahun penjara lagi-lagi terhadap waktu
- Kesehatan ini juga fungsi waktu buktinya orang yg lanjut usia kesehatannya akan semakin menurun

Sang Waktu juga merupakan sumber daya (resources) yang tidak dapat diperbaharui, sekali waktu itu hilang dia tidak bisa kembali lagi……

Contoh :
program kerja 100 hari – ukuran 100 hari itu kan resources waktu yg tersedia atau disediakan, nah kalau dari yang 100 hari itu 60 harinya hanya dipakai buat ribut2 ngurusin masa lalu yang aneh2 maka sisa yang 40 hari nya pastilah gak optimal…dan waktu yg 60 hari yang hilang itu gak bisa kembali lagi…..

Siapa yang tidak bisa mengelola Sang Waktu dia akan tergilas olehnya dan ditinggalkannya dalam ke sia-sian…..

Tidak heran kalau Allah menyatakan “Demi Masa. Sesungguhnya Manusia dalam kerugian”

Itulah yang membuat saya sedih setiap kali menuliskan hari yang telah berlalu di status FB saya…..karena ternyata saya lebih banyak menggunakan waktu saya untuk melakukan ke sia-sia an ketimbang membuat manfaat……

Demikianlah Sang Waktu….begitu misterius,…

Mudah-mudahan kita tidak menjadi orang yang merugi karena menyia-nyiakan Sang Waktu

Salam - imam arkan


Tantangan dimulai deh, motor jalannya ajrut-ajrutan nggak bisa milih jalan, stamina terkuras karena harus konsen dan menjaga keseimbangan, tapi sambil ngeliat pemandangan juga hehehe…..; kira-kira dua kilo jalan gak ada perubahan malah makin parah, jadi sempet ragu juga bener nggak sih ini jalannya. Tanya lagi ke penduduk, dijawab bener. Nanya lagi “ini jalannya kayak gini terus ya sampai di Agra Binta?” dijawab “oh nggak pak nanti ada yang bagusnya juga selang seling deh” katanya.

Bagus deh ada harapan jalan bagus, soalnya di pal kilometer tadi disebutkan Agra Binta 34km…..kan kalo 34km ajrut-ajrutan gini bakalan gempor juga kita.

Perjalanan dilanjutkan dengan pelan-pelan saja paling gigi 1 atau gigi 2 aja, akhirny sekitar 20 km dari Agra Binta jalanan membaik – wuih lega rasanya.

Sepanjang perjalanan Tegal beleud – Agra Binta kontur alam masih sama, perbukitan dan banyak kebun kelapa, jarak antar kampong berjauhan kendaraan yang melintas hanya truck ¾  dan pickup yang mengangkut hasil bumi, angkutan umum tidak terlihat, sepi banget. Lumayan runyam kalo motor ada trouble di ruas ini. Motor sang suhu aja sil shockbrekernya jadi bocor…..tapi masih sanggup melanjutkan perjalanan.

Akhirnya kami tiba di Agra Binta sekitar jam 11.15, kami lanjutkan perjalanan menuju sindang barang yang berjarak 15km dari Agra Binta, kali ini jalanan sudah lebih baik dan terlihat angkutan umum berupa minibus Elf. Namun walaupun jalanan sudah lebih baik untuk mencapai Sindang Barang kami harus melalui 2 buah jembatan darurat, berupa jembatan baley yang lantainya berupa balok papan kayu……

Bener-bener deh kami seperti habis menembus daerah terisolir saja….padahal ini dipulau jawa lho.

Adzan dzuhur terdengar ketika kami memasuki Sindang Barang – dan ternyata tidak ada pom bensin di Sindang Barang ini padahal kota ini termasuk kota yang cukup ramai. Bro Arif terpaksa mengisi bensin eceran untuk bisa melanjutkan perjalanan, sedangkan bensin mat item masih cukup untuk mencapai pamengpeuk.

Saya sudah lega bisa mencapai Sindang Barang ini dengan selamat, karena dari Sindang Barang ke arah Pamengpeuk sebagaian besar saya sudah pernah lewati, tinggal sepotong saja yaitu dari Cidaun/Cijayanti ke Ranca Buaya itu saja yang belum saya lewati. Artinya rute selanjutnya saya sudah familiar.

Kami lanjutkan perjalanan menuju Cidaun (sekitar 25km dari Sindang Barang) – saya pernah ke Cidaun Maret 2009 kemarin bersama bro Djafron dan bro Wawan, kali ini saya lihat disamping jembatan darurat yang menuju cidaun sudah dibangun jembatan baru……baguslah sudah ada perbaikan, juga sebagian lubang saya liat sudah ditambal.

Dicidaun ini kami mampir dulu ke pantai Cijayanti – buat santap siang dan istirahat saat itu jam sudah menunjukan pukul 13.00. Santap siangnya nikmat banget pake ikan bawal bakar yang masih seger dan daging semua (bawal fillet?) sampai nggak abis tuh ikan bakarnya udah kekenyangan….yummy banget bo.

Menjelang jam 15 perjalanan kami lanjutkan dalam cuaca hujan, antara Cijayanti – Rancabuaya (15km) ini ada ruas yang masih rusak kira-kira sepanjang 2 kilo meter adanya selepas Cijayanti selanjutnya jalanan bagus.

Sayangnya saat itu hujan lebat, kalo tidak kami akan lebih bisa menikmati pemandangan yang disuguhkan alam kepada kita, kami berada diperbukitan dimana disebelah kanan  ada persawahan hijau yang membentang dan berbatasan dengan laut/pantai, disebelah kiri kami perbukitan terbuka yang digunakan berladang oleh penduduk. Sangat indah – ditempat-tempat yang tidak digarap manusia perbukitannya masih berupa hutan2 kecil penuh pepohonan.

Setibanya di persilangan jalan Ranca Buaya, hujan semakin deras kami putuskan untuk lanjut ke Pamengpeuk dan tidak mampir ke pantai Ranca Buaya. Jarak Ranca Buaya – Pamengpeuk sekitar 33km sekitar tiga kilometer selepas persilangan jalan tadi…..hujan semakin menggila, kini disertai angin kencang sementara kami berada diperbukitan yang terbuka, akhirnya ketika kami melihat ada sebuah masjid cantik di kanan jalan kami putuskan berhenti.

Mesjid ini cantik karena terletak diatas perbukitan, dari teras disebelah kanan kami bisa melihat hamparan sawah dan tepi laut. Bangunan mesjid ini masih baru dan arsitekturnyapun modern, jadinya betah deh nunggu hujan disini. Kami sholat dzuhur dan ashar terus istirahat, selain kami juga ada pengendara2 lain yang berteduh disini.

Sekitar pukul 16.30 hujan reda dan kamipun melanjutkan perjalanan menuju pamengpeuk, sepanjang jalan kami masih disuguhi pemandangan indah sampai akhirnya kami tiba disatu-satunya pom bensin di Pamengpeuk pada pukul 17.50 setelah sempet mampir ke depan gerbang pusat peluncuran roket LAPAN untuk ngambil foto bro Arif sebagai bukti sudah nyampe Pamengpeuk.

Pom bensin ini ternyata tidak buka 24 jam, jam 18.00 dia akan tutup jadi kami termasuk pelanggan terakhir hari ini, di pom bensin ini kami lepas jas hujan dan bersih2 terus sholat magrib sekalian. Tadinya kami ingin lanjut ke Garut (90km dari pamengpeuk) tapi melihat mendung mulai datang dan badan sudah lelah akhirnya kami putuskan untuk menginap di Pamengpeuk saja……

Setelah makan malam kami langsung istirahat di penginapan dan langsung tertidur kelelahan, sepertinya semua makanan yang kita makan hari itu tidak ada yang tersisa jadi daging deh, semua terkonversi menjadi energy yang kita pake hari itu…..hehehehe

Minggu, 27 Desember 2009

Etappe III : Pamengpeuk – Garut – Cijapati – Bandung – Cianjur – Puncak – Bogor – Jakarta = 329km

Udara cerah Pamengpeuk di minggu pagi ini mengiringi kami di etappe terakhir touring kami, kami start dari penginapan sekitar pukul 07.00 dan langsung menuju ke arah Cikajang – Garut. Ruas Pemengpeuk – Cikajang – Garut ini buat saya sudah cukup familiar karena saya sudah tiga kali melalui rute ini.

Kondisi rute ini jalanannya baik, beberapa kilometer bahkan sudah ada yang baru diaspal dengan hotmix, tidak terlalu lebar dan intensitas kendaraannya cukup ramai. Sedangkan konturnya sendiri berada didaerah perbukitan sehingga kadang dijumpai tanjakan dan turunan. Kelokan-kelokan banyak sekali karena jalan ini mengikuti atau melipir di pinggang bukit, sehingga biasanya disalah satu sisi adalah dinding bukit dan disebelahnya lembah atau jurang.

Pemandangannya yang jelas cantik dan tidak membosankan, ada perkebunan teh yang menutupi perbukitan seperti karpet hijau tebal, ada bukit batu yg menjulang, pokoknya enak dilihat deh.

Perjalanan sangat lancar karena hari masih pagi, kami juga sering berpapasan dengan mobil bak terbuka yang mengangkut orang yang kelihatannya akan rekreasi ke pantai-pantai yang ada di Pamengpeuk.

Menjelang pukul 09.30 kami sudah tiba di Garut, bro Asep mampir sebentar ke tempat penjualan oleh2. Digarut inilah baru kami bertemu dengan biker2 lain yang sedang turing – maklum garut juga salah satu daerah tujuan turing……hehehe berbeda banget dengan saat kami melintas di rute Surade – Tegal Beleud – Agra Binta – Sindang Barang, tidak satupun rombongan biker yg berpapasan….hihihi (kayaknya sih emang kita yang nyeleneh cari rutenya hahahaha).

Dari Garut kita lanjut ke arah Bandung, tapi kali ini kita tidak lewat Nagrek, tapi mencoba jalur alternative lewat Cijapati. Ternyata jalur alternative ini memang menantang, tanjakannya gila-gilaan hehehe……dan pemandangannya pun cukup indah. Sayang di ujungnya (Majalaya – Dayeuhkolot) masih sering macet.

Lepas dari Bandung kami sempat makan siang di Cimahi, di Padalarang rante motor sang suhu putus – untung deket bengkel jadi bisa langsung ganti rante.

Selanjutnya perjalanan lancar di Cianjur hujan lebat, Puncak lancar karena satu arah dan kering(saat itu jam 16.00), tapi di Cibulan hujan lagi terus sampai Bogor dan lalulintas menjadi padat merayap untungnya motor masih bisa nyelap nyelip diantara celah mobil yang ada……

Depok kami lewati dan kami berpisah di bawah flyover TB Simatupang bro Arif lurus ke arah pancoran sedangkan saya berbelok ke kanan menuju Poltangan. Saya tiba dihalaman rumah pukul 19.10 hari minggu tangga 27 Desember 2009 dengan selamat setelah menempuh total 730km.

Alhamdulillah selesai juga selusur jalur pantai Selatan ini di tahun 2009, Alhamdulillah sudah diberi kesempatan oleh Allah untuk menyelusuri jalan mulai dari Muara Binangeun sampai Pangandaran.

Sampai jumpa dalam catatan perjalan saya yang lain.

Imam arkananto

Samudera Indonesia Motor Community (SIMC) – 018

Mailing List Yamaha Scorpio (MiLYS) – 170

Skywave Owner Club (SOC) - 157

 Data angka :

total kilometer 730km

total biaya bensin Rp 102.500,- (full to full)

konsumsi bensin = 1 : 32km

Penginapan di Ujung Genteng = Rp 250.000,-

Penginapan di Pamengpeuk = Rp 100.000,-



Pages:1234